Kota Malang, SuaraRakyat62.com – Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdiyanto, mendorong Pemerintah Kota Malang mulai serius memperkuat ruang terbuka hijau (RTH) dan penataan taman kota, khususnya di kawasan perbatasan kota.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Menuju Adipura 2026, DPRD Minta Kota Malang Perbanyak Ruang Hijau

Menurut politisi senior PDI Perjuangan itu, wajah Kota Malang harus kembali menunjukkan identitasnya sebagai Kota Bunga yang hijau, sejuk, indah, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.

“Kita ingin ketika orang masuk Kota Malang langsung merasakan suasana kota yang hijau dan nyaman. Itu harus terlihat dari taman, pohon, dan ruang hijaunya,” ujar Eko saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (14/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan usai peringatan Hari Jadi ke-112 Kota Malang yang mengusung tema “Malang Kota Bersih Menuju Adipura untuk Indonesia ASRI.”

Eko menilai upaya meraih Adipura 2026 tidak cukup hanya fokus pada persoalan sampah dan kebersihan lingkungan semata. Pemerintah daerah juga harus memperhatikan kualitas taman kota, ruang hijau, hingga keberlangsungan kampung tematik yang selama ini menjadi ikon wisata Kota Malang.

Menurutnya, identitas Kota Malang sebagai Kota Bunga perlahan mulai memudar akibat kurang optimalnya perawatan taman dan penghijauan di berbagai sudut kota.

“Kerindangan pohon-pohon dan taman-taman di Kota Malang ini sebenarnya punya potensi besar,” katanya.

Ia juga menyoroti kondisi sejumlah kampung tematik seperti Kampung Warna-Warni dan Kampung 3G yang sebelumnya sempat menjadi daya tarik wisata unggulan Kota Malang.

Namun saat ini, beberapa titik mulai terlihat kusam dan kehilangan daya tarik akibat kurangnya revitalisasi dan perawatan secara berkelanjutan.

“Dulu kampung tematik itu luar biasa. Lampion hidup, taman kecil tertata, warna cat masih bagus dan menjadi daya tarik wisatawan. Sekarang ada beberapa titik yang mulai memudar,” ujarnya.

Eko menegaskan revitalisasi taman kota dan kampung tematik tidak bisa hanya mengandalkan swadaya masyarakat. Pemerintah daerah harus hadir melalui dukungan anggaran dan program perawatan rutin yang terukur.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama. Dalam beberapa tahun terakhir, anggaran pemerintah banyak terserap untuk penanganan sampah yang volumenya mencapai sekitar 600 hingga 800 ton per hari, termasuk biaya pemeliharaan kebersihan dan pemangkasan pohon.

“Karena fokusnya ke sampah dan pemeliharaan rutin lainnya, akhirnya ada taman-taman yang perawatannya kurang maksimal,” tegasnya.

Selain itu, Komisi D DPRD Kota Malang juga menyoroti capaian ruang terbuka hijau Kota Malang yang masih berada di kisaran 17 hingga 18 persen, sementara target nasional minimal mencapai 20 persen.

Menurut Eko, keterbatasan lahan memang menjadi tantangan. Namun ia menilai masih banyak potensi lahan fasilitas umum dan fasilitas sosial dari kawasan perumahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang hijau baru.

“Masih banyak fasum-fasos perumahan yang belum diserahkan dan itu sebenarnya bisa menjadi potensi ruang hijau baru,” katanya.

Eko berharap momentum Hari Jadi ke-112 Kota Malang menjadi titik awal kebangkitan untuk mengembalikan citra Kota Malang sebagai Kota Bunga yang hijau dan asri.

“Kalau taman dirawat rutin, kerusakan tidak akan besar. Yang penting ada komitmen supaya taman dan kampung tematik yang mulai terbengkalai bisa hidup kembali,” pungkasnya.

 

 

(Mak Ila)