Aipda Sigit Dwi Susanto  Prinsip Pengabdian di Tengah Kritik dan Hujatan..

Scroll Untuk Lanjut Membaca

SURABAYA, Suararakyat62.com

Di tengah derasnya kritik, cibiran, dan sorotan publik terhadap institusi kepolisian, Aipda Sigit Dwi Susanto yang lebih akrab disapa “Hellboy” tetap berdiri teguh menjalankan tugasnya sebagai Kepala Tim Operasional Unit III Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur.

Baginya, nilai pengabdian seorang polisi tidak diukur dari banyaknya pujian, penghargaan, atau popularitas. Pengabdian sejati justru terlihat dari seberapa aman masyarakat menjalani kehidupan, seberapa banyak kejahatan dapat dicegah, dan seberapa kuat persatuan bangsa tetap terjaga.

Di balik setiap keberhasilan pengungkapan kasus, penangkapan pelaku kejahatan, serta terciptanya kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif, terdapat kerja keras petugas yang tidak mengenal waktu. Mereka siap menghadapi risiko, tekanan, bahkan ancaman terhadap keselamatan diri sendiri demi melindungi warga.

“Hujatan silakan ditujukan kepada kami, namun biarkan rakyat tetap merasa aman di bawah perlindungan kami,” tegas Aipda Sigit Dwi Susanto pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Kalimat itu bukan sekadar ucapan kosong. Bagi Hellboy, itulah prinsip dasar yang harus dipegang setiap anggota Polri. Ketika masyarakat beristirahat dengan tenang, aparat tetap berjaga; saat malam tiba dan warga terlelap, polisi masih melaksanakan patroli, penyelidikan, dan pengejaran terhadap pelaku kejahatan.

Sebagai petugas di lingkungan Jatanras, ia menyadari bahwa tugas kepolisian tidak selalu mendapatkan apresiasi. Sering kali aparat menjadi sasaran kritik, tuduhan, atau pandangan negatif di ruang publik. Namun menurutnya, seorang petugas tidak boleh terbawa perasaan oleh pujian maupun terprovokasi oleh cacian. Yang paling utama adalah memastikan keamanan masyarakat tetap terpelihara.

Ia menegaskan bahwa keamanan bukanlah tanggung jawab semata-mata polisi atau TNI. Keamanan adalah fondasi kehidupan berbangsa yang wajib dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, ia terus mengampanyekan semangat “Sabuk Keamanan dan Ketertiban Masyarakat” sebuah gagasan yang mengajak seluruh komponen bangsa bersatu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat semangat bela negara.

“Menjaga keamanan dan membela negara bukan hanya tugas aparat. Ini tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia, mulai dari pejabat, tenaga pemerintah, insan pers, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha, pemuda, hingga seluruh rakyat. Semua harus menjadi bagian dari Sabuk Keamanan dan Ketertiban Masyarakat,” ujarnya.

Menurut Hellboy, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini tidak hanya berupa kejahatan biasa. Penyebaran berita bohong, ujaran yang memancing perselisihan, konflik sosial, serta upaya memecah belah persatuan menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi bersama. Di era digital seperti sekarang, setiap warga memiliki peran penting dalam menjaga ketenangan nasional: menjadi lebih bijak menerima informasi, tidak mudah terhasut, serta aktif memelihara kerukunan di lingkungan masing-masing.

Ia juga memandang kritik terhadap kepolisian sebagai bagian dari demokrasi yang sehat dan wajar. Kritik berperan sebagai pengawasan sosial, namun akan jauh lebih bermanfaat jika disertai solusi dan niat membangun bukan sekadar cacian yang berpotensi memecah belah.

“Polisi dan masyarakat sebenarnya memiliki tujuan yang sama: kita sama-sama menginginkan Indonesia yang aman, tertib, damai, dan berkeadilan. Mari saling mengingatkan, saling mengawasi, dan saling mendukung demi kepentingan bangsa yang lebih besar,” ajaknya.

Di tengah berbagai tantangan yang melanda negeri ini, Hellboy mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendahulukan persaudaraan di atas perbedaan, menjaga persatuan melebihi kepentingan kelompok, serta menjadikan kesejahteraan dan keamanan rakyat sebagai prioritas utama.

Baginya, pengabdian tidak butuh pujian atau sorotan. Nilainya terletak pada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

“Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak pujian yang kita terima. Ia hanya akan mencatat apa yang telah kita perbuat untuk rakyat, bangsa, dan negara. Sebab pengabdian sejati terwujud ketika masyarakat merasa aman, meski tidak pernah tahu siapa yang sedang berjaga melindungi mereka,” pungkasnya.

 

Zen St