Scroll Untuk Lanjut Membaca
SAPA PAGI BERUJUNG TAMPAR: SISWA SMPN 18 MALANG SHOCK DIPUKUL KEPSEK KARENA TAK MAMPU BELI SERAGAM LURIK

MALANG, SUARARAKYAT62. COM

Dunia pendidikan Kota Malang tercoreng! Kamis pagi, 24 September 2026, suasana sapa pagi di SMPN 18 kota Malang berubah mencekam.

Kepala Sekolah SMPN 18 Malang, Moh. Amrozi Hamidi, S.Pd., MM diduga menampar sejumlah siswa hanya karena tidak memakai seragam lurik pada hari Kamis. Ironisnya, siswa-siswa tersebut memakai batik karena tak mampu membeli seragam lurik.

Fakta di lapangan, alasan mereka tidak memakai lurik bukan karena membandel, melainkan karena miskin. Mereka dari keluarga kurang mampu yang tak terjangkau untuk membeli seragam baru.

Puncaknya, seorang siswa berinisial(P) tumbang. Usai diduga dipukul, ia langsung dilarikan ke UKS dalam kondisi demam dan shock.berat

“Di pukul kepala 2 kali dan dijewer telinga, sakit,” ucap siswa yang berinisial( P), lirih dengan wajah pucat.

sebagai seorang guru pendidik tidak sepantasnya melakukan tindakan tidak terpuji, memberi contoh yang sangat kurang etis apa lagi kejadian di lakukan di lingkungan sekolahan
seorang guru yang temperamental sangat arogan tidak pantas di sebut guru,seharusnya seorang guru harus mendidik tata Krama sopan santun pada muridnya dan harus mengerti keadaan masing masing muridnya, tidak semua orang tua murid itu mampu membeli seragam. yang wajib harus di beli di sekolahan apa lagi seragam lurik itu kan tidak wajib kalau tidak punya kan bisa memakai baju batik, jadi murid gak bisa di sama ratakan

Aksi dugaan kekerasan seorang pendidik terhadap siswa kurang mampu ini menuai kecaman. Seragam yang seharusnya jadi identitas, kini jadi mimpi buruk bagi siswa miskin.

Hingga kini, Kepsek SMPN 18 Malang belum buka suara. Dinas Pendidikan Kota Malang didesak turun tangan. Jangan sampai sekolah yang harusnya jadi tempat aman, justru jadi tempat kekerasan!

orang tua siswa akan menuntut kepala sekolah atas perbuatanya terhadap anaknya
karna masih banyak korban lainya yang di perlakukan lebih parah dari anaknya kepala sekolah yang arogan main pukul tidak pantas di sebut guru
seharusnya kepala sekolah itu melindungi,mengayomi,mendidik dengan penuh kasih sayang bukan main pukul seperti preman aja pungkasnya

Bagaimana tanggapan Dinas Pendidikan? Kami masih berupaya konfirmasi.

_(ila)