Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Tiga dekade berlalu sejak peristiwa Kudatuli atau kerusuhan 27 Juli 1996, namun ingatan tentang peristiwa tersebut masih menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah demokrasi dan politik Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
30 Tahun Kudatuli, PDIP Kota Pasuruan Gelar Renungan dan Putar Film Dokumenter Sejarah

Memperingati 30 tahun peristiwa tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan menggelar sarasehan dan renungan dengan memutar film dokumenter yang mengangkat rangkaian peristiwa Kudatuli. Kegiatan berlangsung di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran struktural DPC, pengurus PAC PDI Perjuangan se-Kota Pasuruan, serta anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Pasuruan.

Sarasehan dan renungan tersebut menjadi ruang bagi jajaran kader untuk kembali melihat perjalanan sejarah partai sekaligus merefleksikan berbagai peristiwa politik yang pernah terjadi di Indonesia.

Acara dipandu Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Tatit Panji, S.I.Kom. Dalam pengantarnya, ia menekankan bahwa kegiatan refleksi sejarah memiliki arti penting bagi kader, khususnya generasi muda partai, agar memahami perjalanan organisasi dan dinamika demokrasi yang telah dilalui.

Menurutnya, sejarah tidak semestinya hanya dipahami sebagai catatan masa lalu. Sejarah juga dapat menjadi bahan pembelajaran agar setiap generasi mampu mengambil hikmah dan menjaga nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Renungan ini bukan sekadar untuk mengingat sebuah peristiwa. Kita ingin kader memahami bahwa perjalanan demokrasi memiliki sejarah panjang dan tidak selalu berjalan mudah. Karena itu, sejarah harus dipelajari agar menjadi pelajaran bagi generasi sekarang untuk menjaga demokrasi dan menghargai perbedaan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Setelah sesi pengantar, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter yang merefleksikan rangkaian peristiwa Kudatuli. Para peserta mengikuti pemutaran film secara bersama-sama dalam suasana yang berlangsung khidmat dan penuh perhatian.

Pemutaran film tersebut menjadi momentum untuk mengajak peserta kembali melihat berbagai dinamika yang terjadi pada masa itu serta memahami konteks sejarahnya secara lebih utuh.

Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Gadingrejo, Selamet Basuki, menilai kegiatan refleksi semacam ini penting untuk menjaga ingatan kolektif kader sekaligus memberikan pemahaman kepada generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut.

Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk memahami sejarah politik secara kritis dan objektif sehingga tidak hanya mengenal peristiwa dari potongan informasi yang beredar.

“Kita perlu memahami sejarah dengan baik agar generasi berikutnya tidak kehilangan konteks. Peristiwa Kudatuli merupakan bagian dari perjalanan politik bangsa yang perlu dipelajari. Yang terpenting, kita mengambil pelajaran dari masa lalu dan menjadikannya sebagai pijakan untuk memperkuat komitmen terhadap demokrasi,” ujarnya.

Basuki menambahkan, kader partai juga perlu memahami bahwa perjuangan politik tidak hanya berkaitan dengan kepentingan elektoral, tetapi juga menyangkut nilai-nilai demokrasi, kebebasan menyampaikan pendapat, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat.

“Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi perbedaan itu harus dikelola secara demokratis. Jangan sampai sejarah kekerasan politik terulang. Tugas generasi hari ini adalah menjaga agar demokrasi tetap menjadi ruang yang aman bagi semua warga negara,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Mahfud Husaeri, ST, menegaskan bahwa peringatan 30 tahun Kudatuli harus ditempatkan sebagai momentum refleksi dan pembelajaran.

Menurut Mahfud, kader perlu memahami sejarah perjuangan partai, termasuk berbagai tantangan yang pernah dihadapi. Namun, refleksi sejarah juga harus diarahkan untuk membangun masa depan yang lebih baik dan memperkuat komitmen terhadap kehidupan demokrasi.

“Kita tidak boleh melupakan sejarah. Tetapi mengingat sejarah bukan berarti terus hidup dalam konflik masa lalu. Kita harus mengambil pelajaran, menjaga nilai-nilai demokrasi, dan memastikan perjuangan politik hari ini dilakukan dengan cara yang konstitusional serta berpihak kepada kepentingan rakyat,” kata Mahfud.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal partai sekaligus membangun komunikasi yang sehat dengan masyarakat dan seluruh elemen bangsa.

“Kader harus memahami bahwa perjuangan politik membutuhkan konsistensi, disiplin, dan tanggung jawab. Sejarah memberikan kita pelajaran bahwa demokrasi harus dijaga bersama. Karena itu, kader harus tetap solid, tetapi pada saat yang sama harus mampu menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi,” tambahnya.

Kudatuli dan Pentingnya Refleksi Demokrasi

Peristiwa Kudatuli merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah politik Indonesia yang hingga kini masih menjadi bahan refleksi. Karena itu, memperingatinya tidak cukup hanya dengan mengingat peristiwa, tetapi juga perlu melihat konteks sejarah dan mengambil pelajaran dari berbagai dinamika yang terjadi.

Bagi kader PDI Perjuangan, momentum 30 tahun Kudatuli menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat kesadaran politik generasi penerus.

Namun, refleksi sejarah idealnya tidak berhenti pada kepentingan internal kelompok atau partai. Nilai yang lebih luas dari sebuah peringatan adalah bagaimana masyarakat dapat mengambil pelajaran dari masa lalu untuk mencegah terulangnya konflik dan kekerasan politik.

Demokrasi membutuhkan ingatan, tetapi juga membutuhkan kedewasaan. Perbedaan politik adalah sesuatu yang wajar, sementara kekerasan dan tindakan yang merusak tatanan demokrasi harus menjadi pelajaran bersama.

Melalui sarasehan dan pemutaran film dokumenter tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan berupaya menjaga ingatan sejarah di kalangan kader. Tantangan berikutnya adalah memastikan nilai-nilai yang dipetik dari sejarah tersebut benar-benar diwujudkan dalam praktik politik yang demokratis, terbuka, dan bertanggung jawab.

Sebab, menghormati sejarah bukan sekadar mengenang apa yang telah terjadi, tetapi juga memastikan agar generasi masa depan tidak kembali mengalami peristiwa kelam yang sama.

 

(Zen_Satuman)