Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Komisi IV DPRD Trenggalek menyoroti serius kondisi pelayanan di Poli Spesialis Jantung RSUD dr. Soedomo Trenggalek yang dinilai sudah berada pada titik memprihatinkan. Sorotan itu muncul setelah diketahui satu dokter spesialis jantung harus menangani lebih dari 200 pasien dalam sehari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Satu Dokter Tangani 200 Pasien Jantung, Komisi IV DPRD Trenggalek Soroti Krisis Pelayanan RSUD Soedomo

Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan keterbatasan tenaga medis, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan dan akurasi diagnosis yang diterima pasien.

Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, mengaku prihatin atas situasi tersebut. Menurutnya, beban pelayanan yang terlalu besar berpotensi mengurangi optimalisasi pemeriksaan medis.

“Ini luar biasa sampai 200 lebih pasiennya. Didiagnosa oleh satu dokter waktunya sore hari pisan,” ujar Sukarodin saat dikonfirmasi awak media, Rabu (20/5/2026).

Ia menjelaskan, dokter spesialis jantung yang bertugas di RSUD dr. Soedomo diketahui lebih dahulu menjalankan pelayanan di Ponorogo sejak pagi sebelum melanjutkan praktik di Trenggalek hingga larut malam.

“Paginya di Ponorogo sekitar jam 07.00 lebih sampai jam 08.00 baru dimulai pelayanan sampai jam 01.00 malam bahkan,” ungkapnya.

Bagi Komisi IV, kondisi tersebut tidak bisa dianggap normal dan berpotensi mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan masyarakat.

Sukarodin bahkan mempertanyakan efektivitas diagnosis apabila satu dokter dipaksa menangani ratusan pasien dalam satu hari pelayanan.

“Ini memprihatinkan saya kira dan ini ndak boleh terjadi tentunya karena seorang dokter itu kalau mendiagnosa 200 lebih ini ndak masuk akal. Bagi kami ini ndak masuk akal,” tegasnya.

Menurut Sukarodin, standar pelayanan ideal mengharuskan satu dokter spesialis menangani sekitar 40 pasien per hari agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih cermat dan menyeluruh.

“Tinggal prinsipnya satu dokter spesialis itu idealnya menangani maksimal 40 pasien,” katanya.

Dengan beban mencapai lebih dari 200 pasien per hari, Komisi IV menilai RSUD semestinya memiliki sedikitnya empat dokter spesialis jantung agar pelayanan berjalan proporsional.

“Kalau tadi ada yang sampai sehari 200 berarti mestinya spesialisnya empat dokter, satu poli saja,” imbuhnya.

Komisi IV pun mendesak manajemen RSUD dr. Soedomo segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

Jika rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) belum memungkinkan, rumah sakit diminta menjalin kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan dokter spesialis dari luar daerah melalui skema pembiayaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Kalau belum bisa cari ASN ya tentu MOU. Dengan cara itu kemudian dibiayai oleh BLUD,” jelas Sukarodin.

Selain penambahan tenaga medis, pihaknya juga meminta adanya koordinasi lebih intens antara rumah sakit, Dinas Kesehatan, serta BPJS Kesehatan agar distribusi pasien tidak bertumpu pada satu dokter.

“Itu kemudian berikut untuk pasien spesialis yang pasiennya banyak ini mesti berbagi,” ujarnya.

Menurutnya, penambahan dokter spesialis akan meningkatkan kualitas pelayanan dan memperbesar peluang diagnosis yang lebih akurat.

“Kalau pasiennya itu di atas 40, dokter spesialisnya ya maju dua. Kalau lebih dari 90, ya maju tiga,” ucapnya.

Statement Tajam Komisi IV

Sukarodin menegaskan, pelayanan kesehatan tidak boleh dikalahkan oleh keterbatasan sistem atau alasan administratif. Baginya, keselamatan dan kualitas layanan pasien harus menjadi prioritas utama.

“Rumah sakit jangan membiarkan dokter bekerja di luar batas kewajaran hingga kualitas pelayanan dipertaruhkan. Kesehatan masyarakat bukan soal mengejar jumlah pasien selesai diperiksa, tetapi memastikan diagnosa benar dan pelayanan manusiawi. Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, yang dipertaruhkan bukan hanya mutu layanan, tapi juga keselamatan pasien,” tegasnya.

Ia juga meminta RSUD lebih agresif menarik minat dokter spesialis agar bersedia bertugas di Trenggalek, termasuk melalui peningkatan insentif dan fasilitas penunjang.

“Untuk dokter spesialis jantung dengan bahasa ekstremnya berapapun monggo. Karena kita ada istilah ada gula ada semut,” tandasnya.

Persoalan membludaknya pasien di Poli Jantung RSUD dr. Soedomo menjadi alarm serius bagi pelayanan kesehatan di Trenggalek. Di tengah tingginya kebutuhan layanan spesialis, masyarakat berharap hadir langkah cepat dan terukur dari manajemen rumah sakit maupun pemerintah daerah.

Sebab pelayanan kesehatan bukan hanya soal tersedianya fasilitas, melainkan juga tentang kepastian bahwa setiap pasien memperoleh pemeriksaan yang layak, akurat, dan manusiawi tanpa harus dibayangi kelelahan tenaga medis maupun keterbatasan sistem pelayanan.

 

 

(Yoyok)