Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Pemerintah Kota Pasuruan mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak serta-merta menganggap setiap cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun sebagai fakta sejarah.

Cerita rakyat dinilai tetap memiliki nilai budaya dan menjadi bagian dari identitas daerah. Namun, setiap kisah perlu ditelusuri, dikaji, serta ditempatkan sesuai konteksnya agar pelestarian budaya tidak mengaburkan fakta sejarah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Sejarah dan Dialog Interaktif bertema “Menyikapi Cerita Rakyat dalam Arus Sejarah” yang digelar di Taman Harmoni Pasuruan, Rabu (26/8/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo mengatakan cerita rakyat merupakan kekayaan budaya yang perlu dijaga. Namun, menurutnya, masyarakat juga harus memiliki kemampuan untuk memilah antara nilai budaya dan fakta sejarah.
“Cerita rakyat jangan hanya didengar dan diceritakan kembali. Kita harus menelusuri, menelaah, lalu meneladani nilai baik yang terkandung di dalamnya,” ujar Adi.
Menurut Adi, generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal. Karena itu, pengenalan sejarah tidak cukup hanya dengan menghafalkan cerita, tetapi juga harus mendorong sikap kritis terhadap informasi yang diterima.
Plt Sekretaris Daerah Kota Pasuruan Lucky Danardono menilai pengenalan sejarah dan budaya lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan. Cerita rakyat dapat menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan generasi muda dengan identitas daerah.
“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya dari luar, sementara warisan daerahnya sendiri tidak dipahami,” kata Lucky.
Ia menambahkan, upaya pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sekolah, keluarga, komunitas budaya, hingga masyarakat memiliki peran dalam mempertahankan tradisi dan cerita lokal.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Siti Rochana. Ia mendukung penguatan literasi sejarah dan budaya melalui berbagai kegiatan edukatif, terutama di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis untuk memperkenalkan warisan budaya daerah kepada peserta didik sekaligus membangun kemampuan mereka dalam memahami informasi sejarah secara lebih kritis.
Dalam sarasehan tersebut, peserta diajak memahami perbedaan antara cerita rakyat, legenda, mitos, dan fakta sejarah.
Sulikin, staf Kementerian Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, menjelaskan bahwa cerita rakyat memiliki nilai budaya yang penting, tetapi tidak seluruh bagian cerita dapat langsung dikategorikan sebagai fakta sejarah.
“Kita perlu menelusuri sumbernya dan menelaah konteksnya. Nilai baiknya bisa diteladani, tetapi fakta sejarah tetap harus dibuktikan,” ujarnya.
Sementara itu, Mas Fisco, dosen Universitas Ciputra Surabaya, menilai cerita rakyat justru dapat menjadi pintu masuk yang menarik untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.
“Yang penting bukan hanya mempertahankan ceritanya, tetapi bagaimana generasi muda memahami makna dan konteksnya sehingga warisan budaya tetap relevan,” kata Fisco.
Salah satu pengunjung, Rafi, warga Pekuncen, Kota Pasuruan, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, sarasehan sejarah dan budaya menjadi ruang yang menarik bagi masyarakat untuk memahami cerita-cerita yang selama ini berkembang di lingkungan sekitar.
“Menurut saya kegiatan seperti ini penting, terutama bagi anak muda. Kita sering mendengar cerita dari orang tua atau masyarakat, tetapi belum tentu mengetahui mana yang merupakan fakta sejarah dan mana yang merupakan cerita yang berkembang dari generasi ke generasi,” ujar Rafi.

Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dengan mengangkat berbagai cerita dan sejarah lokal Kota Pasuruan.
“Kalau dikemas dengan dialog dan budaya seperti ini, anak muda bisa lebih tertarik untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri,” tambahnya.
Sarasehan tersebut diikuti generasi muda, sejarawan, budayawan, unsur pemerintah, serta masyarakat. Selain diskusi dan dialog interaktif, kegiatan juga diramaikan sejumlah pertunjukan budaya, di antaranya Terbang Bandung, musik keroncong, Tari Sekar Paravan, dan Mocopatan.
Sesi utama menghadirkan Sulikin dan Mas Fisco untuk membahas cerita rakyat dari perspektif sejarah dan kebudayaan. Peserta juga diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan maupun membahas sejumlah cerita rakyat yang berkembang di Kota Pasuruan.
Pembahasan diarahkan pada dua hal, yakni bagaimana menjaga nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat serta bagaimana menempatkannya secara tepat berdasarkan konteks dan bukti sejarah.
Melalui kegiatan tersebut, Pemkot Pasuruan berharap literasi sejarah masyarakat semakin kuat. Generasi muda diharapkan tidak hanya bangga terhadap warisan budaya daerah, tetapi juga mampu bersikap kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi sejarah.
Dengan demikian, cerita rakyat tetap dapat dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya, sementara fakta sejarah tetap ditempatkan berdasarkan sumber, bukti, dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan.
(Zen_Satuman)




