Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek tidak sekadar menjadi panggung perayaan sejarah dan kebudayaan. Di balik kirab pusaka dan berbagai tradisi yang digelar, terselip pesan penting tentang bagaimana masyarakat menjaga bumi sebagai sumber kehidupan.

Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, turut mengikuti rangkaian prosesi Hari Jadi ke-832 yang berlangsung pada Senin (31/8/2026).
Bagi Doding, tema “Hambeging Bumi” yang diusung tahun ini memiliki makna yang kuat. Tema tersebut dinilai relevan dengan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam sekaligus memastikan pembangunan tidak mengorbankan lingkungan.
“Artinya kita di Kabupaten Trenggalek bisa menjaga alam kita untuk tetap lestari agar bisa menjadi sumber kehidupan seluruh masyarakat Trenggalek dan masyarakat yang lain,” ujar Doding.
Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya kepentingan masyarakat saat ini. Kelestarian alam merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi berikutnya.
“Dengan kita merawat dan menjaga bumi, kita tinggalkan nanti bumi yang semakin bagus, udaranya semakin bagus di Kabupaten Trenggalek, sehingga anak cucu kita bisa hidup tentram dan nyaman di Kabupaten Trenggalek,” katanya.
Doding menilai usia Trenggalek yang telah mencapai 832 tahun seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Perjalanan panjang daerah tidak hanya menyangkut sejarah pemerintahan, tetapi juga bagaimana masyarakat mempertahankan budaya, merawat lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan.
Ia berharap Trenggalek ke depan semakin tertata, berkembang dan memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupannya.
Harapan tersebut sebelumnya juga disampaikan Doding dalam rangkaian kegiatan Hari Jadi. Menurutnya, usia Trenggalek yang telah melewati delapan abad harus menjadi energi untuk membangun daerah agar semakin baik dan masyarakat semakin sejahtera.
Karena itu, semangat Hari Jadi tidak cukup hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Nilai yang terkandung di dalamnya harus diterjemahkan dalam kebijakan dan perilaku sehari-hari.
Dalam rangkaian Hari Jadi, Doding juga turut mengikuti prosesi kirab pusaka. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan warisan leluhur Trenggalek.
Sebelumnya, dalam tradisi jamasan pusaka, Doding juga menyoroti filosofi yang terkandung dalam sejumlah pusaka daerah.
Ia menjelaskan, Tombak Korowelang misalnya, memiliki pesan agar seorang pemimpin mampu menyelesaikan persoalan rakyat sekaligus memberikan piwulang atau teladan kepada masyarakat.
Makna tersebut menjadi relevan dalam momentum Hari Jadi. Sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi sumber nilai bagi pemimpin dan masyarakat dalam menjalankan kehidupan pemerintahan maupun sosial.
Peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek tahun ini berlangsung dengan rangkaian kegiatan yang memadukan sejarah, budaya, agama dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kirab pusaka, tradisi masyarakat, lantunan salawat hingga pembagian udik-udik kepada warga menjadi bagian dari perayaan. Puncak kegiatan juga diwarnai prosesi berjalan kaki tanpa alas kaki menuju pendapa sebagai salah satu simbol yang berkaitan dengan tema “Hambeging Bumi”.
Tema tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi slogan. Ia membawa pesan bahwa bumi harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam setiap proses pembangunan.
Bagi Trenggalek, menjaga alam memiliki arti strategis. Keberadaan sumber air, lahan pertanian, hutan dan lingkungan yang sehat berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, pembangunan daerah dituntut tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga daya dukung lingkungan.
Doding menegaskan bahwa bumi yang terawat akan memberikan manfaat yang jauh lebih panjang bagi masyarakat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi di usia ke-832 Trenggalek: daerah boleh terus berkembang, pembangunan harus terus berjalan, tetapi alam tetap harus dijaga.
Sebab, ketika bumi dirawat hari ini, yang menikmati manfaatnya bukan hanya generasi sekarang, tetapi juga anak cucu yang akan melanjutkan perjalanan Trenggalek di masa depan.
(Yoyok)




