Sidoarjo, SuaraRakyat62.com – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mengalami keluhan kesehatan secara bersamaan pada Selasa (1/9/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
316 Santri Dirawat, Hari Yulianto Pastikan Keselamatan Santri Jadi Prioritas

Sebagian santri dilaporkan mengalami mual, pusing hingga muntah setelah menyantap makanan. Kondisi tersebut membuat puluhan ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi para santri ke sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo hingga Surabaya.

Berdasarkan pembaruan data pasien yang dihimpun dari RS Notopuro Sidoarjo pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 02.52 WIB, tercatat sebanyak 316 santri telah mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit tersebut.

Jumlah tersebut belum termasuk santri yang mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan lainnya, seperti RS Siti Hajar, Delta Surya, Pusura, serta rumah sakit lain di sekitar Tanggulangin dan Surabaya.

Keluhan kesehatan mulai dirasakan sejumlah santri pada Selasa sore. Berdasarkan informasi dari warga dan pihak yang berada di lingkungan pesantren, keluhan muncul dalam rentang sekitar pukul 16.09 hingga 18.00 WIB.

Situasi tersebut membuat proses evakuasi dilakukan secara cepat. Puluhan mobil ambulans, termasuk dua unit ambulans milik DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo, dikerahkan untuk membantu membawa para santri ke rumah sakit.

Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo juga turut mendatangi lokasi untuk membantu koordinasi penanganan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo yang juga anggota DPRD Jawa Timur, Hari Yulianto, mendatangi IGD RS Notopuro untuk melihat langsung proses penanganan para santri.

Ia menegaskan bahwa keselamatan dan penanganan medis terhadap para santri harus menjadi prioritas dalam situasi tersebut.

“Yang terpenting saat ini adalah memberikan pertolongan medis terbaik untuk para santri,” ujar Hari.

Pihak rumah sakit juga melakukan pembaruan data pasien secara berkala untuk membantu keluarga santri mengetahui kondisi maupun keberadaan anggota keluarganya yang mendapatkan perawatan.

Di tengah penanganan medis, muncul dugaan bahwa keluhan kesehatan para santri berkaitan dengan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab keracunan. Penyebab pasti masih memerlukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Sejumlah keluarga santri yang berada di rumah sakit mengaku mendapat informasi dari anak atau kerabat mereka mengenai makanan yang dikonsumsi sebelum mengalami keluhan.

Rofidah, kakak salah seorang santri yang ditemui di RS Notopuro, mengatakan adiknya mulai mengalami mual pada sore hari dan kemudian dibawa ke rumah sakit saat waktu Magrib.

“Sorenya mual. Karena makan tempenya tidak enak, sayur seperti basi,” kata Rofidah, mengutip cerita adiknya.

Sementara itu, Widyantoro, salah seorang wali santri yang ditemui di RS Siti Hajar, mengatakan kondisi anaknya sempat membaik setelah mendapatkan perawatan. Namun, anaknya kembali muntah sehingga dokter meminta agar kembali menjalani pemeriksaan.

“Terus mau pulang, kok muntah-muntah di depan RS. Akhirnya sama dokternya disuruh masuk lagi,” ujarnya.

Pada malam harinya, beredar informasi melalui aplikasi percakapan WhatsApp berupa keterangan dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Dalam keterangan tersebut disebutkan bahwa para santri mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.

Meski demikian, informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan hasil pemeriksaan medis dan investigasi mengenai sumber makanan yang dikonsumsi para santri.

Hari Yulianto memilih tidak berspekulasi mengenai penyebab kejadian tersebut.

Menurutnya, persoalan utama yang harus dilakukan saat itu adalah memastikan seluruh santri mendapatkan pertolongan medis yang diperlukan.

“Hal-hal lain seperti sumber penyebab keracunan bukan prioritas utama pada malam ini. Sekali lagi, keselamatan anak-anak kita semua, para santri, harus didahulukan,” tegasnya.

Hingga Rabu dini hari, proses pendataan dan penanganan terhadap para santri masih berlangsung di sejumlah rumah sakit.

Jumlah 316 pasien di RS Notopuro juga masih berpotensi bertambah apabila terdapat data susulan dari fasilitas kesehatan lainnya.

Penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan secara massal tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut. Karena itu, dugaan keterkaitan dengan menu MBG belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama sebelum adanya keterangan resmi dari pihak terkait.

Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan ratusan santri dan pelaksanaan program makanan bagi peserta didik. Penelusuran terhadap makanan yang dikonsumsi, proses distribusi, serta hasil pemeriksaan medis dan laboratorium diharapkan dapat mengungkap penyebab kejadian secara terang.

 

(Alvian)