Jombang, SuaraRakyat62.com –Pemerintah Kabupaten Jombang tengah menggagas perubahan slogan daerah dari “Kota Santri” menjadi “Jombang, The Root of Java”. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi Jombang dalam menarik investasi, mengembangkan pariwisata, dan memperluas citra daerah ke level global. Namun, perubahan tersebut tak lepas dari kontroversi di tengah masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
The Root of Java: Slogan Baru Jombang untuk Menjemput Peluang Global

Menurut Kepala Bappeda Jombang, Danang Praptoko, slogan “The Root of Java” menggambarkan akar budaya dan spiritualitas Jawa yang kuat di Jombang.

“Kita ingin Jombang tidak hanya dikenal secara religius, tapi juga sebagai pusat budaya dan sejarah Jawa. Ini langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman dan meningkatkan daya jual Jombang di pasar global,” ujarnya, Senin (12/5/2025).

Tugu di Jombang dengan Slogan Jombang Santri

Penggagas dan pendukung perubahan ini melihat bahwa dalam era modernisasi dan kompetisi antar daerah, branding yang kuat dan inklusif adalah kebutuhan. Slogan berbahasa Inggris dipilih agar lebih mudah diterima dunia internasional, seiring target Jombang membuka diri terhadap peluang investasi dan kolaborasi global.

Langkah ini disambut baik oleh sebagian kalangan muda, pelaku usaha, dan akademisi. Mereka melihat branding “The Root of Java” sebagai langkah progresif yang bisa membuka banyak peluang baru, tanpa melupakan nilai-nilai religius yang sudah mengakar di masyarakat, Kamis (15/05/2025).

Dwi Ayu Lestari, aktivis perempuan dan pengajar muda di salah satu perguruan tinggi di Jombang, menyebut perubahan slogan ini sebagai bentuk adaptasi terhadap zaman.

“Jika ingin bersaing secara global, daerah perlu mengangkat citra yang bisa diterima lintas budaya. ‘The Root of Java’ itu elegan, punya kekuatan simbolik, dan tetap relevan dengan sejarah Jombang sebagai pusat kebudayaan Jawa,” jelasnya kepada awak media SuaraRakyat62.com

Yulia Maharani, pelaku UMKM berbasis seni dan batik di Peterongan, mengaku antusias dengan gagasan baru tersebut.

“Saya bangga kalau Jombang punya identitas baru yang lebih luas. Ini bisa memperkenalkan produk-produk lokal kami ke pasar luar negeri, tanpa melupakan akar budaya yang sudah ada,” terang Rani sapan akrabnya.

Namun di sisi lain, perubahan slogan ini mendapat kritik dari kalangan pesantren dan budayawan yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengaburan terhadap identitas historis Jombang sebagai Kota Santri.

Gus Faizzudin Fil Muntaqobat, tokoh pesantren dari Sentul, mengingatkan bahwa identitas religius bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari sejarah panjang Jombang.

“Menghapus atau mengganti ‘Kota Santri’ sama saja menghilangkan warisan sejarah. Ini bisa memicu disorientasi nilai, terutama di kalangan generasi muda,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (15/5/2025).

Ia menilai bahwa “Kota Santri” adalah simbol jati diri dan kontribusi Jombang dalam sejarah Islam dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perubahan slogan, apalagi tanpa kajian mendalam dan partisipasi publik yang luas, dinilai bisa memicu konflik sosial dan rasa kehilangan identitas.

Alun-Alun Jombang

Menanggapi kontroversi tersebut, pihak Pemkab Jombang menegaskan bahwa perubahan slogan bukan berarti menghapus identitas religius Jombang, melainkan memperluas narasi yang mencakup kekayaan sejarah, budaya, dan ekonomi.

“Kota Santri tetap melekat sebagai identitas batin masyarakat. Tapi kita butuh kemasan baru agar bisa bersaing, menarik investasi, dan memajukan daerah,” tegas Danang.

Pemerintah juga menyampaikan bahwa slogan “The Root of Java” masih dalam tahap pembahasan bersama tokoh masyarakat, budayawan, dan akademisi.

Perubahan slogan Jombang menjadi “The Root of Java” menjadi cermin bahwa identitas daerah adalah hal yang kompleks dan dinamis. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk membangun branding yang modern dan kompetitif; di sisi lain, ada keinginan untuk menjaga warisan sejarah dan spiritualitas lokal.

Kini, yang dibutuhkan adalah dialog terbuka dan proses partisipatif agar keputusan akhir mencerminkan kepentingan bersama: membangun Jombang yang kuat secara ekonomi tanpa kehilangan ruh budayanya.

 

Penulis ; Aji