Trenggalek, SuaraRakyat62.com — Komitmen menghadirkan pembangunan yang berkeadilan dan merangkul seluruh lapisan masyarakat kembali ditegaskan PDI Perjuangan. Sekretaris DPC PDI Perjuangan Trenggalek sekaligus Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, memastikan arah pembangunan di Trenggalek harus bersifat inklusif dan berpihak pada seluruh elemen masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Doding saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Perempuan, Anak, Disabilitas, dan Kelompok Rentan Lainnya (Musrena Keren) Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis (26/2/2026).
Menurut Doding, arah pembangunan daerah sejatinya telah tertuang secara jelas dalam dokumen perencanaan jangka panjang dan menengah daerah. Untuk periode 2026–2027, Pemerintah Kabupaten Trenggalek bersama DPRD mengusung tema besar Kota Atraktif sebagai strategi memperkuat daya saing daerah.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa konsep kota atraktif tidak boleh dimaknai sebatas pembangunan fisik semata.
“Pembangunan atraktif ini juga harus inklusif, harus one for all. Satu untuk semua, semua untuk satu. Artinya pembangunan harus merangkum aspirasi seluruh masyarakat Kabupaten Trenggalek, tanpa terkecuali,” tegasnya.
Sebagai partai wong cilik, PDI Perjuangan, lanjut Doding, memandang bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan rakyat dan memberi ruang yang sama bagi perempuan, anak, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya agar tidak tertinggal dalam proses pembangunan.
Ia menjelaskan, konsep Kota Atraktif dirancang untuk menghadirkan infrastruktur yang berkualitas, berkelanjutan, ramah lingkungan, serta adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Implementasinya akan diwujudkan melalui dukungan anggaran yang memadai pada sektor-sektor strategis, khususnya penguatan pariwisata dan penataan ruang publik.
Beberapa proyek prioritas yang didorong antara lain pengembangan kawasan wisata Goa Lowo, Pantai Simbaronce, Hutan Kota, penataan alun-alun, pembangunan jalur pedestrian, hingga jogging track yang ramah bagi seluruh kalangan.
“Kota atraktif itu kota yang menarik. Trenggalek harus punya daya tarik. Tapi tidak cukup hanya menarik, harus nyaman dan bisa diakses oleh semua, termasuk kelompok rentan,” ujarnya.
Doding menekankan bahwa pembangunan ruang publik tidak semata bertujuan mempercantik wajah kota, melainkan menciptakan ruang bersama yang aman, nyaman, dan inklusif. Dengan penataan kota yang semakin baik, diharapkan tumbuh rasa memiliki dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya sendiri.
Ia juga optimistis, penguatan identitas kota akan berdampak langsung pada meningkatnya kunjungan dari luar daerah, yang pada akhirnya mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
“Kalau warga bangga dengan Trenggalek dan orang luar tertarik datang, ekonomi masyarakat akan ikut bergerak. Tanpa daya tarik itu, peningkatan ekonomi akan sulit terwujud,” jelasnya.
Meski fokus pada infrastruktur dan pariwisata, Doding mengingatkan agar proses pembangunan tetap dijalankan secara partisipatif. PDI Perjuangan mendorong model perencanaan bottom up dengan menjaring aspirasi masyarakat dari tingkat bawah, bukan hanya pendekatan top down.
“Tidak bisa hanya berdasarkan keinginan kepala daerah. Aspirasi dari kecamatan, perempuan, anak, dan rekan-rekan disabilitas harus menjadi bagian dari perencanaan. Inilah esensi gotong royong dalam pembangunan,” pungkasnya.
Dengan semangat one for all, PDI Perjuangan Trenggalek memastikan pembangunan Kota Atraktif benar-benar menjadi milik bersama, berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh rakyat.
(Yoyok)




