Scroll Untuk Lanjut Membaca
Ikan Lumba Lumba Viral Ditemukan Mati, Tinggalkan Kenangan Pilu

ROKAN HULU, SUARARAKYAT62 — Beberapa waktu lalu, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) sempat diselimuti rasa kagum dan harapan. Sungai Batang Lubuh—yang juga dikenal sebagai Sungai Rokan Kanan—mendadak menjadi sorotan publik setelah kemunculan seekor lumba-lumba, mamalia laut cerdas yang jarang, bahkan nyaris tak pernah, terlihat di perairan hulu sungai.

Kemunculan satwa langka tersebut sontak mengundang decak kagum masyarakat. Video dan foto yang beredar luas di media sosial menjadikan lumba-lumba itu simbol harapan akan masih lestarinya Sungai Rokan Kanan. Bupati Rokan Hulu, Anton, ST, MM, pun turun tangan, membenarkan fenomena tersebut sekaligus mengeluarkan imbauan tegas agar seluruh elemen masyarakat turut menjaga dan melindungi satwa yang diduga tersasar jauh dari habitat aslinya.

Saat itu, di balik riuh kekaguman, terselip doa agar sang lumba-lumba dapat bertahan hidup dan kembali ke habitatnya. Namun, takdir berkata lain.

Harapan itu kini runtuh. Pada Senin pagi, 15 Desember 2025, kabar duka menyelimuti warga Rohul. Lumba-lumba yang sebelumnya menjadi kebanggaan sesaat masyarakat tersebut ditemukan terdampar dalam kondisi tak bernyawa di pinggiran Sungai Batang Lubuh, tepatnya di Dusun Surau Munai, Kecamatan Kepenuhan Hulu.

Bukan lagi lompatan anggun yang terlihat, melainkan tubuh kaku yang terdiam. Sunyi. Pemandangan itu meninggalkan luka dan tanda tanya besar: apa yang menyebabkan mamalia laut yang dikenal tangguh di samudra luas harus mengakhiri hidupnya secara pilu di perairan hulu sungai?

Dugaan sementara mengarah pada berbagai faktor, mulai dari kelelahan ekstrem akibat perjalanan jauh, perubahan kualitas air, hingga kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan habitat alaminya. Namun, hingga kini, penyebab pasti kematian lumba-lumba tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut dari pihak berwenang.

Mendapat laporan atas kejadian tragis itu, Bupati Rokan Hulu, Anton, ST, MM, segera mengeluarkan instruksi kepada pihak terkait dan masyarakat setempat.

“Saya meminta masyarakat segera menguburkan ikan (lumba-lumba) tersebut. Jangan sampai dibiarkan membusuk di air karena dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan bau,” ujar Bupati Anton melalui perantara.

Arahan tersebut langsung ditindaklanjuti. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, perangkat desa bersama masyarakat melakukan prosesi penguburan. Prosesi tersebut turut disaksikan Camat Kepenuhan Hulu, Junaidi, S.IP, M.Si, serta Kepala Desa Kepenuhan Hulu, Nurhadi.AS.

Kepergian lumba-lumba ini meninggalkan duka mendalam. Bukan hanya karena hilangnya seekor satwa langka, tetapi juga karena pupusnya harapan akan sebuah simbol alam yang sempat menyatukan kekaguman masyarakat.

Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa ekosistem sungai adalah ruang hidup yang rapuh. Sungai Batang Lubuh mungkin telah kehilangan ikon sementaranya, namun dari peristiwa pilu ini diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk lebih menjaga kebersihan, kelestarian, dan keseimbangan lingkungan perairan.

Agar ke depan, tak ada lagi kisah satwa yang tersasar, bertahan sendiri, lalu tumbang dalam sunyi.
(Esra)