Malang, SuaraRakyat62.com – Final cabang olahraga Mixed Martial Arts (MMA) di Kabupaten Malang menuai kontroversi tajam. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bangkalan menyatakan kekecewaannya atas keputusan panitia pelaksana (panpel) yang dinilai mencederai sportivitas dan merugikan atlet mereka, Sheril Irmaulia Cantika.

Pertandingan yang digelar dalam nomor Standing Fight usia 18–23 tahun kelas 56,7 kg putri, mempertemukan Sheril (Bangkalan) melawan atlet Kota Malang. Dalam laga penentuan tersebut, keputusan wasit dianggap janggal, bahkan dinilai sarat tekanan tuan rumah.
“Wasit awalnya memberi sinyal K.O. untuk atlet kami, padahal Sheril masih dalam posisi berdiri dan siap bertarung. Lalu tiba-tiba dibatalkan, dan suasana menjadi kacau,” ungkap Direktur Badan Sport Science KONI Bangkalan, Fajar Hidayatullah, Selasa (24/6/2025).
Kericuhan memuncak saat seorang ofisial dari tim Kota Malang membuka paksa pintu oktagon dan masuk ke dalam arena sebelum pertandingan dinyatakan selesai. Tindakan itu melanggar aturan dan berpotensi memicu diskualifikasi.
“Ini bentuk pelanggaran serius. Dalam peraturan IBJMM A Port Pov 9-2025 poin 10 jelas disebutkan, siapapun yang mengganggu jalannya pertandingan bisa didiskualifikasi,baik atlet, pelatih maupun tim,” tegas Fajar.
Namun ironisnya, alih-alih menjatuhkan diskualifikasi, panpel justru memutuskan kemenangan untuk pihak Malang. KONI Bangkalan pun menuding panpel tak netral dan tunduk pada tekanan lokal.
“Aturan dilanggar terang-terangan, tapi panpel seakan takut bertindak. Kami sangat kecewa dan menyebut ini sebagai skandal sportivitas,” lanjutnya.

Fajar juga menyebut bahwa Sheril, yang telah berlatih keras dan tampil maksimal, menjadi korban ketidakadilan sistemik.
KONI Bangkalan mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap jalannya pertandingan, serta meminta induk olahraga MMA dan panitia provinsi mengambil langkah tegas agar integritas olahraga tidak tercoreng.
“Ini bukan hanya soal menang atau kalah, ini soal keadilan. Dunia olahraga harus bebas dari intervensi dan keputusan sepihak,” pungkas Fajar.
Kejadian ini menambah catatan penting akan perlunya peningkatan profesionalisme penyelenggaraan olahraga, terutama di tingkat regional yang kerap rawan kepentingan tuan rumah.
Pewarta ; Mak Ila
Sumber ; Patriotmadura.com




