Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Dalam semangat menjaga warisan perjuangan dan menolak lupa atas tragedi politik masa lalu, DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan menggelar Saresehan Peringatan Kudatuli pada Minggu malam, 27 Juli 2025, di Kantor DPC PDI Perjuangan, Jalan KH. Mas Mansyur No.3, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo.

Acara ini mengangkat tema “Kudatuli, Kami Tidak Lupa: Menolak Lupa dan Merawat Demokrasi”, dan dihadiri oleh jajaran pengurus DPC, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Pasuruan, kader-kader muda, serta para tokoh senior partai yang menjadi pelaku dan saksi sejarah Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996.

PLT Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Tatit Panji, menegaskan bahwa peringatan Kudatuli bukanlah seremoni rutin tanpa makna, melainkan refleksi mendalam terhadap luka sejarah yang mengantar bangsa ini pada jalan demokrasi.
“Peristiwa Kudatuli adalah darah dan air mata perjuangan rakyat. Ini bukan luka biasa, tapi jejak keberanian kader partai yang berdiri tegak di tengah intimidasi kekuasaan. Tanpa Kudatuli, kita mungkin belum sampai pada demokrasi seperti hari ini,” ujar Tatit dalam sambutannya.

Dari Luka Menjadi Lentera Perjuangan
Kudatuli (Kerusuhan Dua Tujuh Juli) adalah tragedi politik yang terjadi pada 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta. Konflik internal yang dipicu perebutan kepemimpinan antara kubu Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi, yang ditunggangi oleh intervensi kekuasaan Orde Baru, berujung pada penyerbuan brutal oleh massa bayaran.
Kerusuhan itu menewaskan 5 orang, melukai 149 orang, serta menyebabkan 23 orang hilang yang hingga kini tak diketahui nasibnya. Komnas HAM dalam penyelidikannya menyatakan terjadi enam bentuk pelanggaran HAM berat, termasuk pelanggaran terhadap hak hidup, kebebasan berserikat, dan rasa aman warga sipil.
Dalam suasana hening dan penuh hormat, beberapa tokoh senior partai menyampaikan testimoni langsung dari pengalaman mereka saat Kudatuli. Mereka bukan hanya saksi, tapi korban sekaligus pelaku perjuangan.

Bambang Parikesit, kader senior PDI Perjuangan Kota Pasuruan, mengungkapkan kesaksiannya:
“Kami berada di kantor partai waktu itu. Tiba-tiba diserbu, dihajar, dikejar. Tapi kami tidak lari. Karena kami tahu, mempertahankan partai ini berarti memperjuangkan hak rakyat untuk bersuara.”
Haji Paring Rejeki menegaskan bahwa demokrasi hari ini tak boleh membuat generasi lupa akan harga yang telah dibayar.
“Anak-anak muda hari ini harus tahu: partai ini berdiri bukan karena modal besar, tapi karena keberanian berdiri di depan kekuasaan yang menindas.”

Jamaludin, yang sempat ditahan setelah kerusuhan, menyampaikan pesan mendalam:
“Kudatuli bukan sekadar peristiwa. Ia adalah ujian nurani. Kita tidak hanya lawan kekuasaan, tapi mempertaruhkan nyawa untuk satu kata: merdeka berpikir dan bersuara.”
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pasuruan, Drs. Wahyu Widodo, menyampaikan bahwa Kudatuli adalah identitas moral partai yang tak boleh ditanggalkan.
“Ini bukan masa lalu yang harus dikubur, tapi api perjuangan yang harus terus dijaga. PDI Perjuangan adalah satu-satunya partai besar hari ini yang lahir dari luka sejarah dan tumbuh dari perlawanan rakyat kecil. Kita tidak boleh lupa dari mana kita datang,” ujarnya.
Acara saresehan ditutup dengan doa bersama mengenang para korban Kudatuli. Dengan linangan air mata dan semangat yang tak padam, para kader membacakan doa untuk arwah para pejuang demokrasi yang gugur.

Dari ruangan sederhana di tengah Kota Pasuruan, gema semangat perlawanan kembali dihidupkan. Sebuah pengingat bahwa demokrasi hari ini bukan warisan, tetapi hasil perjuangan yang dibayar mahal oleh keberanian.
“Kudatuli adalah luka sejarah yang menyala abadi. Dan kami PDI Perjuangan Kota Pasuruan akan terus menjaga nyalanya agar tak padam oleh waktu maupun kekuasaan,” tutup Gatot yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Pasuruan periode 2024-2029.
Pewarta ; Zen_Satuman




