SUARARAKYAT62, PASURUAN — Program Makan Bergizi (MBG) di SDI Pakijangan, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, menuai sorotan. Dalam tiga hari pelaksanaan, Senin (2/3) hingga Rabu (4/3), menu yang dibagikan dinilai kurang variatif, sementara sistem pengemasan berubah-ubah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
MBG SDI Pakijangan Bikin Geleng Kepala! Menu Disorot, Kemasan Gonta-ganti

Pada hari Senin, makanan dikirim menggunakan tas kain yang diwajibkan untuk dikembalikan keesokan harinya. Namun, pada Selasa dan Rabu, kemasan berganti menggunakan kantong plastik (kresek). Perubahan ini memunculkan tanda tanya di kalangan wali murid.

“Iki wes keterlaluan pakek banget,” keluh salah satu warga Wonorejo.

Bahkan ada yang menyindir lauk sambal goreng tempe, “Iki koyok selamatan e uwong mati ae.”

Dari pantauan menu yang diterima siswa, komposisi memang mencakup unsur karbohidrat, protein, dan buah. Namun, variasi lauk dinilai monoton dan minim sayuran segar. Beberapa makanan juga tampak berembun di dalam box tertutup, memunculkan kekhawatiran soal kualitas penyajian.

Selain persoalan menu, inkonsistensi kemasan juga dipertanyakan. Jika memang menggunakan tas kain sebagai bagian dari standar distribusi, mengapa hanya berlaku satu hari? Jika alasan efisiensi, transparansi mekanisme pengadaan dan distribusi menjadi penting untuk dijelaskan.

Program MBG sejatinya hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan bergizi demi mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar. Namun ketika kualitas menu diperdebatkan dan sistem distribusi terlihat tidak konsisten, wajar publik bertanya.

Apakah ini benar-benar program peningkatan gizi, atau sekadar formalitas menggugurkan kewajiban?

SuaraRakyat menilai, yang dibutuhkan bukan sekadar pembagian makanan, tetapi keseriusan menjaga kualitas, standar gizi, dan transparansi anggaran. Karena yang dipertaruhkan bukan proyek, melainkan masa depan anak-anak.

Penulis : Abdul Khalim