Pati, SuaraRakyat62.com — Suasana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memuncak pada Rabu (13/08/2025) ketika ribuan warga mengepung kantor Bupati Sudewo. Aksi yang awalnya berlangsung damai berujung ricuh setelah aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Dua orang dilaporkan tewas akibat sesak napas, puluhan lainnya terluka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Pati Memanas: Rakyat Bersatu Desak Sudewo Turun dari Kursi Bupati

Gelombang demonstrasi besar-besaran ini dipicu kebijakan kontroversial kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Meskipun kebijakan tersebut sudah dibatalkan, kemarahan warga tidak surut. Mereka menuntut satu hal: Bupati Sudewo mundur dari jabatannya.

Sejak subuh, warga dari berbagai kecamatan memenuhi kawasan Alun-alun Pati. Teriakan “Bupati Sudewo harus lengser!” menggema, disertai spanduk dan poster bernada protes.

Ketegangan mulai terasa sekitar pukul 11.00 WIB saat massa memaksa mendekati pagar kantor bupati. Lemparan botol, tiang bendera, hingga sandal beterbangan ke arah aparat. Puncaknya, massa berhasil mendobrak gerbang, memaksa polisi menyemprotkan meriam air, lalu menembakkan gas air mata.

“Jangan pakai gas air mata, banyak anak kecil!” teriak Kartini (56), warga yang matanya memerah dan napas tersengal.

RSUD RAA Soewondo menerima 33 korban luka ringan. Direktur rumah sakit, Rini Susilowati, memastikan seluruh korban dalam kondisi stabil. Namun di lapangan, kabar duka menyebar cepat: dua warga meninggal akibat sesak napas.

Situasi kian panas ketika massa membakar mobil di Jalan Dokter Wahidin, merusak pagar, dan memecahkan kaca gedung di kompleks Pendopo Kabupaten Pati.

Akar kemarahan warga bukan hanya soal kenaikan pajak, tetapi juga pernyataan Sudewo yang menantang warga untuk berunjuk rasa meski jumlahnya 50 ribu orang. Tantangan itu dibalas Aliansi Masyarakat Pati Bersatu dengan memobilisasi massa besar dan mendirikan posko logistik di sekitar alun-alun.

Spanduk bernada keras pun bermunculan, salah satunya berbunyi:
“Pak Presiden Prabowo, Pecat Bupati Sudewo atau Jateng Boikot Partai Gerindra”.

Sekitar pukul 12.15 WIB, Sudewo akhirnya muncul di hadapan massa. Naik kendaraan lapis baja, ia meminta maaf, namun menegaskan tidak akan mundur.

“Saya dipilih secara konstitusional. Semua ada mekanismenya,” ujarnya singkat.

Pernyataan itu semakin menyulut amarah. Koordinator aksi, Ahmad Husein, menegaskan demonstrasi akan berlanjut setiap hari hingga Sudewo lengser.

Delapan fraksi DPRD Pati sepakat menggunakan hak angket untuk memproses pemakzulan Sudewo. Pakar politik Undip, Wahid Abdulrahman, menilai peluang pemakzulan terbuka lebar mengingat turunnya kepercayaan publik dan DPRD.

“Seharusnya masa awal jabatan adalah bulan madu dengan rakyat. Tapi ini justru menjadi awal badai,” ujarnya.

Pati kini berada di titik krisis politik. Kemarahan rakyat, desakan DPRD, dan sikap keras Bupati Sudewo menjadi campuran berbahaya. Jika tak ada langkah dialog yang nyata, gelombang demonstrasi bisa semakin besar, dan risiko jatuhnya korban pun kian terbuka.

 

 

Penulis ; Tajudin