Jakarta, SuaraRakyat62.com – Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) ke-65 diwarnai aksi ekstrem di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025). Sembilan petani asal Riau nekat mengecor tubuh mereka dengan semen sebagai bentuk protes atas konflik agraria yang tak kunjung diselesaikan pemerintah.

Seorang petani bernama Ridwan, pimpinan kelompok tani Riau, menjadi peserta pertama yang tubuh bagian bawahnya terkurung dalam coran semen setinggi perut. Aksi dramatis itu dilakukan tepat di tengah Jalan Medan Merdeka Selatan, di depan barikade polisi.
“Aksi cor badan ini bentuk perlawanan terakhir. Kasus agraria petani Riau sudah bertahun-tahun tak selesai. Mereka ingin didengar langsung Presiden terpilih Prabowo Subianto,” tegas Betran Sulani, Ketua Wilayah LMND Jakarta yang memimpin aksi.

Massa aksi menolak hanya diterima perwakilan Kementerian Sekretariat Negara. Mereka menegaskan tuntutan harus sampai ke Prabowo.
Selain cor badan, massa membawa boneka tikus berjas hitam sebagai simbol korupsi birokrasi, mengusung hasil panen seperti padi dan pisang, serta mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah sebagai wujud keberagaman perjuangan.
Aksi yang digelar Serikat Petani Indonesia (SPI) bersama mahasiswa, buruh, dan organisasi rakyat itu menyuarakan enam tuntutan utama:
- Selesaikan konflik agraria, hentikan kriminalisasi petani.
- Jadikan tanah perkebunan dan kehutanan sebagai TORA (Tanah Objek Reforma Agraria).
- Revisi Perpres Reforma Agraria No. 62 Tahun 2023.
- Revisi UU Pangan, Kehutanan, Koperasi, dan sahkan UU Masyarakat Adat.
- Cabut UU Cipta Kerja.
- Bentuk Dewan Nasional Reforma Agraria dan Dewan Nasional Kesejahteraan Petani.
Aksi ini membuat Jalan Medan Merdeka Selatan ditutup total. Arus lalu lintas dialihkan ke Jalan Haji Agus Salim dan menimbulkan kemacetan di sekitar Gambir. Sebanyak 8.340 personel gabungan TNI-Polri dan Pemprov DKI diterjunkan untuk mengamankan jalannya unjuk rasa.
Hingga malam, massa aksi masih bertahan di lokasi dengan orasi bergantian dari atas mobil komando. Aksi berlangsung damai, meski ketegangan sempat terasa di depan barikade aparat.
Penulis; Vivin




