Jakarta, SuaraRakyat62.com – Kondisi perekonomian Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam. Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, mengingatkan adanya tanda-tanda stagnasi ekonomi yang tidak bisa lagi diabaikan.

Dalam Diskusi Hari Buruh di Pasar Legi Solo, ia menilai struktur pertumbuhan ekonomi nasional saat ini tidak sehat karena terlalu bergantung pada konsumsi masyarakat, sementara sektor-sektor strategis lainnya justru mengalami perlambatan.
“Kalau dilihat dari komponen produk domestik bruto, hampir semuanya macet kecuali konsumsi,” tegasnya, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm serius. Investasi, ekspor-impor, hingga sektor pembiayaan negara dinilai tidak bergerak optimal. Dampaknya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya stabil di atas 5 persen kini merosot dan hanya berada di kisaran 3 hingga 4 persen.
Tekanan juga datang dari faktor eksternal. Aria Bima menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa menyentuh angka Rp17.500 per dolar AS. Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus di atas 100 dolar per barel, sementara Indonesia masih bergantung pada impor energi hingga sekitar 1 juta barel per hari.
Situasi global yang tidak menentu, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz, turut memperbesar risiko ekonomi nasional. Jika harga energi terus melonjak, beban impor akan meningkat dan secara langsung menekan anggaran negara.
Tak hanya itu, kenaikan harga bahan bakar juga berpotensi memicu efek domino terhadap sektor lain. Biaya logistik akan meningkat, distribusi barang terganggu, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak. Kondisi ini berisiko menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi.
Aria Bima menegaskan, pemerintah tidak boleh pasif menghadapi situasi ini. Ia menekankan pentingnya langkah konkret dan cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi serta melindungi masyarakat dari dampak perlambatan.
“Setiap warga negara berhak mendapatkan pekerjaan yang layak. Jika masih ada pengangguran, itu menjadi tanggung jawab negara,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penciptaan lapangan kerja sebagai prioritas utama. Menurutnya, pemerintah harus segera mendorong sektor riil agar kembali bergerak melalui penguatan investasi, peningkatan ekspor, serta pengelolaan fiskal yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Peringatan keras dari Aria Bima menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di persimpangan krusial. Ketergantungan pada konsumsi tanpa diimbangi penguatan sektor produktif hanya akan memperlambat laju pertumbuhan. Pemerintah dituntut bergerak cepat, adaptif, dan berani mengambil kebijakan strategis. Jika tidak, stagnasi ekonomi bukan sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang harus dihadapi masyarakat luas.
(Gloria/Gesuri)




