Surabaya, SuaraRakyat62.com — Semarak budaya dan kreativitas generasi muda Indonesia meledak dalam Traditional Modern Dance National Competition (TMDNC) 2025, sebuah ajang kompetisi tari tingkat nasional yang diselenggarakan oleh UKM Karawitan dan Tari “Kusuma Laras Ati” Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) pada Sabtu, 28 Juni 2025 di Gedung Cak Durasim, Surabaya.

Mengusung tema “Dancing Through Time: Blending History and Innovation,” kompetisi ini bukan sekadar panggung lomba, melainkan sebuah peristiwa budaya yang mempertemukan seni tradisi dan modern dalam satu harmoni yang memukau.

Dalam sambutannya, Dr. Edi Krisharyanto, S.H., M.H., Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UWKS, menegaskan bahwa UWKS terus berkomitmen mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan dalam pelestarian budaya.
“Universitas bukan hanya mencetak sarjana, tapi juga penjaga identitas bangsa. Lewat TMDNC, kami membuktikan bahwa mahasiswa UWKS mampu menjadi pelopor kebudayaan yang adaptif dan kreatif,” ungkap Dr. Edi.

Ketua pelaksana kegiatan, Dhiah Ayu Dwi A.W.P, menyampaikan bahwa acara ini dipersiapkan selama berbulan-bulan dengan semangat gotong royong dari para mahasiswa UKM.
“Kami ingin menciptakan ruang di mana nilai tradisi tidak sekadar dikenang, tapi terus tumbuh dengan inovasi dan keberanian berekspresi,” jelasnya.

TMDNC 2025 diikuti oleh 54 peserta dari berbagai kota/kabupaten se-Jawa Timur, terbagi ke dalam tiga kategori lomba:
- Kategori Tradisional Anak (usia 7–15 tahun): 34 peserta
- Kategori Tradisional Dewasa (usia 16–25 tahun): 17 peserta
- Kategori Modern (umum): 3 peserta
Setiap peserta menampilkan tarian yang menggambarkan keunikan budaya lokal, dikemas dengan sentuhan kontemporer dalam kostum, koreografi, hingga tata artistik.
Siti Rodliyah, Ketua Umum UKM Kusuma Laras Ati UWKS, menegaskan pentingnya regenerasi budaya.
“Budaya adalah warisan. Tapi tanpa inovasi, ia bisa terlupakan. Di sinilah peran seni modern: bukan menggantikan tradisi, tapi menjadikannya tetap relevan,” katanya.

Acara ini mendapat dukungan penuh dari UPT Taman Budaya Cak Durasim Surabaya. Kepala UPT, Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M., mengaku bangga gedung yang ia kelola menjadi saksi lahirnya karya-karya anak bangsa.
“Gedung ini jadi tempat bertemunya sejarah dan masa depan. Apa yang dilakukan UWKS sangat berarti untuk pelestarian budaya kita,” terangnya.
Tak ketinggalan, Drs. Wahyu Widodo, Pemerhati Kebudayaan Nasional, juga turut mengapresiasi.
“Acara ini bukan hanya penting, tapi mendesak. Di tengah gempuran budaya luar, anak muda seperti mereka harus terus diberi panggung. Ini adalah bentuk nyata menjaga jati diri bangsa,” tandasnya kepada awak media.

Penilaian dilakukan secara objektif oleh juri profesional yang terdiri dari seniman, koreografer, dan akademisi. Kriteria yang dinilai antara lain: teknik, ekspresi, kekompakan, kreativitas, serta kesesuaian tema.
🔹 Kategori Modern Dance (Umum)
Juara 1: Flash Varsity (No. 02)
Juara 2: West to East (No. 03)
Juara 3: UKM Sembur (No. 01)
Best Kostum: Flash Varsity
Juara Favorit: West to East
🔹 Kategori Tradisional Anak
Juara 1: LWW Project (No. 18)
Juara 2: LWW Art (No. 23)
Juara 3: Bonafide (No. 24)
3 Penyaji Terbaik:
Sanggar Tari Putri Ayu (No. 12)
Jago Sawung (No. 09)
Sanggar Pramudhita (No. 34)
Best Kostum: St. PSBKI (No. 19)
Juara Favorit: Bening Irsani Gresik (No. 01)
🔹 Kategori Tradisional Dewasa
Juara 1: Sanggar Tari Prastika (No. 13)
Juara 2: Moilere (No. 02)
Juara 3: Sanggar Seni Dharma Budaya (No. 04)
3 Penyaji Terbaik:
Gedrug Santri (No. 16)
Tradalas (No. 24)
Cic Tarta Wanodya (No. 23)
Best Kostum: Tresno Budoyo Tim B (No. 21)
Juara Favorit: Rajakha (No. 10)

Salah satu penampilan yang menyita perhatian datang dari Sanggar Aswara GI – Kota Pasuruan, dengan tari Senduk yang menyuarakan kelembutan dan kekuatan perempuan Jawa. Pembinanya, Ibu Titin, menyampaikan bahwa tari adalah media untuk menghidupkan pesan sosial.
“Tari bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa nilai, sejarah, dan kekuatan sosial. Semoga acara seperti ini terus hidup dan berkembang,” ungkap Ibu titin pembina sanggar.

Di akhir acara, pembawa acara menyampaikan pesan yang menggetarkan hati.
“Teruslah menari, bukan hanya di atas panggung, tapi juga dalam kehidupan. Jadikan setiap langkah sebagai perayaan nilai dan warisan bangsa,” pungkasnya.
Ketua Umum UKM Karawitan dan Tari UWKS menutup acara dengan ucapan penuh rasa syukur.

“TMDNC 2025 bukan hanya tentang siapa yang juara, tapi tentang siapa yang berani terus berkarya. Kami bangga telah jadi bagian dari perjalanan budaya ini. Sampai jumpa di TMDNC selanjutnya,” ucapnya.
Melalui TMDNC, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya sekali lagi menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tak boleh kehilangan ruh budayanya. Di tengah derasnya arus teknologi dan globalisasi, UWKS berdiri tegak sebagai kampus yang menjaga harmoni antara intelektualitas dan kearifan lokal.
Pewarta ; Suliani




