SUARARAKYAT62, MALANG – Semangat warga Malang Selatan menuntut ilmu menembus jarak dan lelah. Ayu, warga Dusun Gentong, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, menjadi satu dari ribuan jamaah yang antusias mengikuti Pengajian Akbar Gus Iqdam di Stadion Gajayana Malang, Selasa malam (2/6/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gus Iqdam Kunjungi Malang, Warga Rela Hadir Demi Mengaji Akbar Bhayangkara 80

Pengajian ini digelar Polresta Malang Kota sebagai rangkaian Bulan Bhakti Bhayangkara ke-80. Selain siraman rohani, agenda juga menjadi momentum doa bersama untuk korban tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022.

Pengajian Akbar Bhayangkara 80 + Doa Kanjuruhan
Polresta Malang Kota memproyeksikan acara ini bukan sekadar pengajian biasa. Ribuan jamaah diajak menundukkan kepala memanjatkan doa bagi korban Kanjuruhan. Tagline “Simpatiknya Sabilul Taubah” dari Majelis Sabilul Taubah Gus Iqdam terpampang di panggung megah Stadion Gajayana.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama, memperkuat persatuan, serta mendoakan saudara-saudara kita yang telah menjadi korban tragedi Kanjuruhan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan keberkahan,” ujar Kasi Humas Polresta Malang Kota Ipda Lukman Sobhikin, Sabtu (2/6/2026).

Gus Iqdam + Ayu Warga DS Gentong Tirtomoyo
Pemateri utama adalah Muhammad Iqdam Kholid atau Gus Iqdam, pengasuh Ponpes Mambaul Hikam II Blitar. Gaya dakwahnya sederhana, santai, membumi, dan mudah diterima generasi muda hingga masyarakat akar rumput.

Wajah warga desa diwakili Ayu dari DS Gentong, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis. Dari Pakis ke Gajayana jarak belasan kilometer. Ayu bersama warga lain rela berangkat berombongan sejak sore agar tidak ketinggalan. Antusiasme Ayu membuktikan dakwah Gus Iqdam menjangkau hingga pelosok Kabupaten Malang.

Selasa 2 Juni 2026 Stadion Gajayana Malam Hari
Pengajian dijadwalkan Selasa, 2 Juni 2026 malam hari di Stadion Gajayana, Kota Malang. Lampu panggung biru dan layar LED besar menyala, menerangi lautan jamaah yang memadati tribun dan lapangan. Jamaah datang dari Pakis, Turen, Donomulyo, Batu, hingga Malang Kota dan kabupaten luar Malang

Bhayangkara 80 + Rindu Siraman Rohani
Hari Bhayangkara diperingati 1 Juli. Tahun 2026 memasuki usia ke-80. Polresta memilih pendekatan spiritual untuk membangun komunikasi lebih dekat antara Polri dan masyarakat, sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah dinamika sosial.

Bagi warga seperti Ayu, antusiasme datang dari kerinduan siraman rohani. Pengajian akbar menjadi ruang warga desa melepas penat, mempererat silaturahmi, dan menambah wawasan agama. Pesan persatuan dan optimisme dari Gus Iqdam menjadi magnet utama.

“Pengajian ini bukan hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antara Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Malang Raya agar bersama-sama menjaga persatuan serta keamanan lingkungan,” tegas Ipda Lukman.

470 Personel Amankan + Jamaah Tertib
Polresta Malang Kota menyiapkan 470 personel gabungan dari kepolisian, instansi terkait, hingga elemen masyarakat. Pengamanan preventif dan humanis difokuskan pada pengaturan arus lalu lintas menuju Gajayana dan pengawasan titik strategis.

Masyarakat diimbau menjaga ketertiban, mengikuti arahan petugas, dan menjadikan pengajian sebagai momentum memperkuat ukhuwah. Kota Malang diharapkan tetap aman dan damai.

Dari Desa Tirtomoyo, rombongan Ayu berangkat bersama. Meski perjalanan melelahkan, semangat jamaah tidak surut sampai acara selesai. Pemandangan truk-truk warga parkir di sekitar stadion menjadi bukti nyata animo warga Malang Selatan.

Konteks Malang Raya: Stadion Gajayana Jadi Majelis Ilmu
Stadion Gajayana berulang kali berubah fungsi menjadi majelis ilmu terbesar. Setelah Harlah NU 1 Abad, kini Bhayangkara ke-80. Fenomena ini menunjukkan animo masyarakat Malang terhadap dakwah tinggi.

Dengan hadirnya Gus Iqdam dan antusiasme warga seperti Ayu dari DS Gentong Pakis, Pengajian Akbar Bhayangkara ke-80 dipastikan menjadi ruang menyatukan doa, harapan, dan solidaritas untuk Malang Raya, khususnya bagi keluarga korban tragedi Kanjuruhan.(nyak ila)