Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Audiensi antara Forum Rembuk Masyarakat (FORMAT) Pasuruan dan manajemen RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan yang digelar pada Rabu (10/6/2026) berlangsung cukup dinamis. Sempat diwarnai suasana tegang dan saling adu argumentasi, pertemuan tersebut akhirnya berakhir damai dengan foto bersama antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Sempat Tegang, Audiensi FORMAT dan RSUD dr. R. Soedarsono Berakhir Damai 

Audiensi digelar sebagai tindak lanjut atas surat permohonan yang diajukan FORMAT Pasuruan terkait meninggalnya seorang pasien yang sebelumnya menjadi sorotan publik.

Dalam pertemuan tersebut, manajemen rumah sakit sengaja menghadirkan langsung pihak keluarga pasien guna meluruskan informasi yang berkembang dan menghindari kesalahpahaman yang berkepanjangan.

Pertemuan dipimpin langsung Direktur RSUD dr. R. Soedarsono, dr. Adi Widianto, didampingi jajaran manajemen rumah sakit. Dalam pemaparannya, dr. Adi menjelaskan kronologis pelayanan berdasarkan rekam medis resmi pasien.

Menurutnya, dari hasil penelusuran rekam medis tidak ditemukan adanya diagnosis penyakit jantung pada pasien sebagaimana informasi yang sebelumnya beredar di masyarakat.

Namun, penjelasan tersebut langsung mendapat tanggapan dari pihak keluarga pasien. Mereka menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan penyakit jantung justru disampaikan oleh oknum tenaga kesehatan yang melayani pasien saat berada di rumah sakit.

“Kalau perawat tidak bilang penyakit jantung, mungkin kami tidak akan semarah ini,” ujar salah satu perwakilan keluarga pasien.

Menanggapi hal tersebut, dr. Adi kembali menjelaskan alur pelayanan yang telah diberikan kepada pasien. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan dan miskomunikasi yang terjadi selama proses pelayanan.

Meski permohonan maaf telah disampaikan, Ketua FORMAT Pasuruan, Ismail Makky, tetap memberikan kritik terhadap sistem pengawasan internal rumah sakit. Menurutnya, tenaga kesehatan harus memiliki moralitas dan etika profesi yang kuat dalam memberikan pelayanan maupun informasi medis kepada pasien dan keluarganya.

“Kami tidak mungkin mengganti nyawa yang hilang. Namun moralitas tenaga medis sangat penting karena menjadi landasan dalam mengambil keputusan, melayani pasien, dan menjalankan tanggung jawab profesi. Setiap tindakan medis harus berpusat pada kesejahteraan pasien, keadilan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia. Apalagi jika pelayanan dilakukan oleh peserta magang, maka pengawasan harus lebih ketat,” tegas Makky.

FORMAT juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap tenaga kesehatan yang bertugas di ruang pelayanan kritis. Mereka berharap manajemen rumah sakit melakukan evaluasi menyeluruh agar tidak terjadi kesalahan komunikasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, kedua belah pihak akhirnya mencapai titik temu. Pihak keluarga menerima penjelasan yang disampaikan rumah sakit, sementara manajemen RSUD berkomitmen melakukan evaluasi total terhadap sistem pelayanan dan komunikasi internal.

Sebagai simbol berakhirnya polemik dan kesalahpahaman yang terjadi, keluarga pasien bersama Direktur RSUD dr. R. Soedarsono dan jajaran manajemen melakukan foto bersama.

Momen tersebut menandai berakhirnya audiensi dalam suasana yang lebih cair dan penuh semangat untuk memperbaiki pelayanan kesehatan ke depan.

 

Penulis : Abdul Khalim