SUARARAKYAT62, BANDUNG – Marhaenisme merupakan sebuah ideologi yang dikembangkan dan dibidani oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno sekitar tahun 1926-1927. Soekarno terinspirasi untuk mengembangkan paham tersebut setelah bertemu dengan seorang petani miskin di Bandung yang bernama Mang Aen. Dengan penyesuaian bahasa sedikit menjadi Marhaen, namanya diabadikan menjadi ideologi yang berdiri pada Sosialisme ala Indonesia. Sekarang ini, Marhaenisme menjadi dasar ideologi organisasi pemuda independent yaitu, GPM (Gerakan Pemuda Marhaenis).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
DPD GPM Jatim : Aktualisasi Marhaenisme Dalam Pemberdayaan

Sebagai sosok yang pernah berkecimpung di GSNI, GMNI dan sekarang di GPM, Nata Nanda menjelaskan bahwa esensi Marhaenisme adalah memberdayakan yang kecil tanpa membenci yang besar. Penjabarannya, kaum kecil dan miskin yang kesusahan untuk menghidupi dirinya harus diberdayakan dengan diberi rivilege tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan agar tidak terjadi ketimpangan sosial-ekonomi.

 

“Menurut Bung Karno, proletar hanya menyumbangkan tenaganya untuk kelangsungan ekonomi kaum borjuis agar bisa bertahan hidup. Sementara kaum Marhaen, meski tidak kaya tapi mereka memiliki faktor dan alat produksi sendiri yang mampu menopang kebutuhan hidupnya,” ujar Dosen salah satu Kampus di Malang yang juga Wakil Sekretaris Internal DPD GPM Jatim .

Bung Nata, sapaan akrabnya menyatakan bahwa Marhaenisme tetap dan masih relevan di zaman sekarang walaupun paham tersebut telah asing didengar oleh banyak masyarakat khususnya pemuda. Konsep ekonomi kerakyatan berdikari menjadi poin yang penting diselaraskan di zaman sekarang menjadi konsep UMKM atau ekonomi kreatif.

 

“Masih sangat relevan, tinggal niat dan kemauan untuk mengiplemtasikan”, tambahnya saat dihubungi oleh awak media, Jumat (26/6/2026).

 

Terakhir, ia menegaskan bahwa Marhaenisme bukanlah suatu paham utopis yang tidak mungkin diimplementasikan dan hanya berkutat pada teori saja. Implementasi dari paham Marhaenisme begitu mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang terutama pemuda.

“Semangatnya gotong royong, misal suatu kelompok yang beranggotakan 20 orang. Katakan setiap bulan iuran 20 ribu akan terkumpul 400 ribu, setahun 4.800 ribu. Bayangkan modal itu diberikan dan diputar untuk memberdayakan warga untuk membuka usaha, bisa menyerap tenaga kerja dan membuka lapangan pekerjaan baru,” tutupnya.