Surabaya, SuaraRakyat62.com – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Diana Amaliyah Verawatiningsih atau Diana Sasa berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum penting untuk melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa organisasi semakin maju dan semakin dekat dengan persoalan umat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Diana Sasa: Muktamar ke-35 NU Harus Lahirkan Kepemimpinan yang Dekat dengan Persoalan Umat

Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, diharapkan tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk memperkuat arah perjuangan organisasi dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.

“Saya berharap Muktamar NU menghasilkan kepemimpinan yang mampu membawa NU semakin maju, semakin dekat dengan persoalan umat, serta terus menjadi cahaya bagi Indonesia,” ujar Diana Sasa, Kamis (27/8/2026).

Menurut Diana, NU memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai organisasi keagamaan sekaligus kemasyarakatan, NU dinilai memiliki kontribusi panjang dalam membangun kehidupan umat, menjaga nilai kebangsaan, memperkuat toleransi, serta merawat persatuan di tengah keberagaman.

Karena itu, ia berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung secara tertib dengan mengedepankan musyawarah, penghormatan dan persaudaraan.

“NU adalah penjaga moral bangsa. Karena itu, Muktamar ke-35 NU kali ini harus menjadi momentum yang menunjukkan kedewasaan, kebersamaan, dan teladan demokrasi bagi masyarakat luas,” katanya.

Diana menilai salah satu kekuatan NU terletak pada kemampuannya menjadi rumah besar bagi berbagai elemen masyarakat. Posisi tersebut, menurutnya, perlu terus dirawat agar NU tetap memiliki peran sosial yang kuat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia juga memandang organisasi kemasyarakatan keagamaan seperti NU memiliki peran strategis sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil sekaligus mitra negara dalam membangun kehidupan berbangsa.

“Negara membutuhkan keberadaan organisasi kemasyarakatan keagamaan yang sehat dan kuat. Ormas seperti NU memiliki peran penting dalam menjaga nilai moral publik, memperkuat kehidupan demokrasi, dan merawat persatuan bangsa,” ujar mantan aktivis mahasiswa yang pernah menjadi Bendahara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya tersebut.

Menurut Diana, tantangan yang dihadapi masyarakat terus berkembang. Persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, hingga perubahan kehidupan akibat perkembangan teknologi membutuhkan respons dari berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan.

Dalam konteks tersebut, NU diharapkan tetap mampu mempertahankan karakter sebagai organisasi yang mandiri serta memiliki keberpihakan terhadap kepentingan dan kemaslahatan masyarakat.

Diana mengakui politik kebangsaan merupakan bagian dari sejarah panjang NU. Namun, ia menilai kekuatan NU justru dapat semakin besar apabila organisasi mampu menjaga independensi dan tidak tersandera kepentingan politik praktis.

Menurutnya, NU tetap dapat berkontribusi dalam kehidupan kebangsaan tanpa harus kehilangan posisi sebagai kekuatan masyarakat sipil.

Ia berharap kepemimpinan NU yang lahir dari Muktamar ke-35 mampu meneruskan tradisi organisasi dalam menjaga persaudaraan, memperjuangkan kemaslahatan umat, serta memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

“Semoga seluruh proses Muktamar dapat berjalan dengan penuh penghormatan dan mengedepankan musyawarah, menjaga tradisi NU yang selama ini mengutamakan persaudaraan dan kemaslahatan umat,” pungkasnya.

Muktamar ke-35 NU diharapkan menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat kontribusi NU dalam kehidupan sosial, keagamaan dan kebangsaan. Perbedaan pandangan dalam proses organisasi diharapkan tetap dapat dikelola melalui tradisi musyawarah dan persaudaraan yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan NU.

 

(Ani)