Magetan, SuaraRakyat62.com  – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Diana A.V. Sasa, mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) benar-benar menjadi sarana pembentukan karakter yang edukatif, aman, dan menyenangkan bagi peserta didik baru. Ia menegaskan, tidak boleh ada ruang bagi praktik perundungan, perpeloncoan, maupun tindakan yang merendahkan martabat siswa dalam pelaksanaan MPLS.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Diana Sasa Tegaskan MPLS Harus Bebas Perundungan, Sekolah Wajib Jadi Ruang Aman bagi Siswa Baru

Menurut Diana Sasa, MPLS merupakan tahapan penting bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah, memahami budaya belajar, serta membangun kepercayaan diri dalam memasuki jenjang pendidikan yang baru. Oleh karena itu, seluruh rangkaian kegiatan harus berorientasi pada pembinaan karakter dan penguatan nilai-nilai positif, bukan memberikan tekanan secara fisik maupun psikologis.

“MPLS harus menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik. Jangan sampai ada praktik perundungan, perpeloncoan, ataupun kegiatan yang merendahkan martabat siswa. Sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak,” ujar Diana Sasa kepada awakmedia, Senin (13/7/2026).

Politisi PDI Perjuangan tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab menciptakan lingkungan sekolah yang aman berada di tangan seluruh unsur pendidikan. Kepala sekolah, guru, panitia MPLS, hingga kakak kelas harus menjadi teladan dalam membangun budaya saling menghormati dan menghargai sesama.

Menurutnya, suasana sekolah yang positif sejak hari pertama akan memberikan dampak besar terhadap perkembangan karakter, mental, dan semangat belajar peserta didik.

“Budaya saling menghormati harus dibangun sejak awal. Ketika siswa merasa diterima dan dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, beradaptasi, dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.

Selain itu, Diana Sasa juga mengajak para orang tua untuk aktif mengawal pelaksanaan MPLS melalui komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

“Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan melalui teladan dan lingkungan sekolah yang saling menghargai. Ketika anak merasa aman, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berkembang, dan meraih cita-citanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Diana Sasa mengingatkan bahwa kualitas pendidikan menjadi salah satu penentu utama kemajuan bangsa. Ia mengutip pemikiran Proklamator Republik Indonesia, Soekarno, yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan nasional.

“Bung Karno pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah cikal bakal keberhasilan sebuah bangsa. Karena itu, setiap anak harus memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” tegasnya.

Menurut Diana Sasa, nilai-nilai tersebut harus menjadi komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penting untuk menanamkan disiplin, gotong royong, toleransi, integritas, serta penghormatan terhadap sesama sejak hari pertama peserta didik memasuki lingkungan sekolah.

Ia berharap seluruh sekolah di Jawa Timur mampu menyelenggarakan MPLS yang humanis, edukatif, dan berorientasi pada pembentukan karakter, sehingga lahir generasi yang cerdas, berakhlak, berdaya saing, serta siap menjadi penerus bangsa di masa depan.

 

(Pur)