Ngawi, SuaraRakyat62.com – Suasana Gedung Fatmawati DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi, Minggu malam (26/7/2026), tampak berbeda dari biasanya. Lampu ruangan diredupkan. Puluhan kader duduk bersila membentuk lingkaran, sementara nyala lilin menerangi ruangan dalam suasana penuh keheningan dan refleksi.

Malam itu, para kader tidak sekadar mengikuti agenda rutin organisasi. Mereka berkumpul untuk mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan Kudatuli, tragedi penyerbuan Kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, yang menjadi salah satu catatan kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Tiga dekade telah berlalu. Namun, bagi keluarga besar PDI Perjuangan, Kudatuli bukan sekadar peristiwa sejarah yang tersimpan dalam catatan masa lalu. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan demokrasi Indonesia dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, serta keberanian dalam mempertahankan keyakinan politik.
Peringatan 30 tahun Kudatuli di DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi diawali dengan doa bersama untuk mengenang para korban. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan renungan suci dan sarasehan yang diikuti jajaran pengurus partai bersama sejumlah tamu dari unsur eksternal.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengatakan peringatan Kudatuli tidak hanya dimaksudkan untuk mengenang peristiwa masa lalu. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi kader, khususnya generasi muda yang tidak mengalami langsung dinamika politik pada masa tersebut.

Menurutnya, sejarah perjalanan dan perjuangan partai perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya agar kader memahami proses panjang yang telah dilalui hingga demokrasi dapat berkembang seperti sekarang.
“Peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen, khususnya kader muda, agar memahami sejarah PDI Perjuangan yang ditempa berbagai dinamika, tekanan, dan perjuangan. Dari proses itulah dapat dipetik pembelajaran tentang makna demokrasi yang sesungguhnya,” ujar Dwi Rianto Jatmiko yang akrab disapa Mas Antok.
Ia berharap nilai-nilai perjuangan yang diwariskan dari perjalanan sejarah tersebut dapat menjadi bekal bagi kader dalam menjalankan tugas organisasi. Terlebih, saat ini partai terus melakukan konsolidasi hingga ke tingkat akar rumput.
Bagi Mas Antok, memahami sejarah saja tidak cukup. Kader juga harus mampu menerjemahkan semangat perjuangan tersebut melalui kerja nyata dan kehadiran di tengah masyarakat.
“Kami ingin kader membawa semangat itu ketika melaksanakan instruksi partai dan hadir memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan masing-masing,” katanya.
Suasana malam semakin larut. Satu per satu nyala lilin mulai meredup. Namun, bagi para kader yang mengikuti doa, renungan, dan sarasehan tersebut, semangat untuk merawat ingatan atas Kudatuli diyakini tidak ikut padam.
Bagi mereka, sejarah bukan sekadar untuk dikenang. Sejarah juga menjadi pengingat sekaligus penuntun agar demokrasi tetap dijaga dan perjuangan politik senantiasa diarahkan untuk memberikan pengabdian serta manfaat bagi masyarakat.
(Pr)




