Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Upaya melestarikan budaya sekaligus membangun kepedulian terhadap masa depan generasi muda diwujudkan Aliansi Pemuda Poros Tengah melalui kegiatan “Nguri-Uri Budoyo Bong Mancilan 2026“.

Kegiatan yang digelar di Lapangan Bong Mancilan, Kelurahan Pohjentrek, Kota Pasuruan, Minggu (26/7/2026) malam, tersebut menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus pesan kuat bahwa pelestarian budaya dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat karakter generasi muda dan menjauhkan mereka dari berbagai ancaman sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Mengusung tema pelestarian warisan leluhur guna melahirkan generasi berbudaya, bermartabat, dan bebas narkoba, acara tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Ribuan warga hadir menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional, di antaranya kesenian Bantengan Padepokan Lembu Baskoro dan atraksi pencak silat Pagar Nusa.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Pasuruan H. Adi Wibowo, S.TP., M.Si., jajaran forkopimda, perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Pasuruan menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif para pemuda yang berupaya menjaga budaya lokal sekaligus menghidupkan ruang kebersamaan masyarakat.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga kesenian dan tradisi warisan leluhur, tetapi juga dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Keterlibatan UMKM membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Mari kita jaga tradisi ini sebagai amanah leluhur. Semoga Pasuruan senantiasa menjadi kota yang religius dan berbudaya; agama menerangi hidup, ilmu mempermudah jalan, dan seni memperindah kehidupan,” ujar Wali Kota.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, ketertiban, serta menciptakan lingkungan yang kondusif agar berbagai kegiatan positif dapat terus berkembang di Kota Pasuruan.
Sementara itu, perwakilan Aliansi Pemuda Poros Tengah, Saeful, Ketua M-Bara, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni atau hiburan masyarakat. Menurutnya, kegiatan Nguri-Uri Budoyo merupakan bagian dari upaya pemuda untuk menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
Ia menilai, generasi muda membutuhkan ruang positif untuk berekspresi dan berkegiatan. Ketika ruang tersebut tersedia, anak-anak muda memiliki kesempatan untuk menyalurkan energi dan kreativitasnya melalui kegiatan yang membangun.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pemuda juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga budaya dan lingkungan sosialnya. Budaya jangan hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi harus terus hidup dan dikenalkan kepada generasi muda. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang positif agar anak-anak muda memiliki kegiatan yang sehat, kreatif, dan menjauhkan mereka dari narkoba serta berbagai pergaulan yang berisiko,” ujar Saeful.

Menurutnya, upaya pencegahan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan penindakan. Dibutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, aparat, keluarga, tokoh masyarakat, dan terutama pemuda.
“Melawan narkoba bukan hanya tugas aparat. Ini tanggung jawab bersama. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi dengan membangun kegiatan positif, memperkuat kebersamaan, dan menciptakan lingkungan yang mampu menjadi benteng bagi generasi berikutnya,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kehadiran ribuan warga yang memadati lokasi kegiatan. Salah satunya Lukman Hakim, warga Tembokrejo, yang mengapresiasi kegiatan tersebut.
Menurut Lukman, kegiatan budaya seperti Nguri-Uri Budoyo memiliki nilai penting karena mampu mempertemukan masyarakat sekaligus memberikan hiburan yang tetap mengandung nilai edukasi dan pelestarian tradisi.
“Kegiatan seperti ini sangat positif. Masyarakat bisa berkumpul dan menikmati hiburan, sementara anak-anak muda juga bisa mengenal kesenian tradisional. Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya dari media sosial, tetapi tidak mengetahui budaya yang tumbuh dan diwariskan di daerahnya sendiri,” ungkap Lukman.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak generasi muda.
“Kalau kegiatan seperti ini rutin digelar dan anak-anak muda dilibatkan, saya yakin dampaknya akan sangat baik. Mereka punya ruang untuk berkarya dan berkegiatan bersama. Ini jauh lebih positif daripada membiarkan mereka menghabiskan waktu tanpa arah,” tambahnya.
Perwakilan BNN yang hadir dalam kegiatan tersebut juga berharap momentum tersebut dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba. Pencegahan dinilai perlu dilakukan sejak dini dengan membangun ketahanan keluarga dan lingkungan serta memperbanyak kegiatan positif bagi generasi muda.
Kegiatan Nguri-Uri Budoyo Bong Mancilan 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi panggung pertunjukan kesenian tradisional. Di balik kemeriahan acara, terdapat pesan yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga identitas budaya sekaligus menciptakan ruang sosial yang sehat bagi generasi muda.

Pelestarian budaya dan pencegahan narkoba memang merupakan dua hal yang berbeda. Namun, keduanya dapat dipertemukan melalui satu tujuan, yakni menciptakan lingkungan yang mampu membentuk karakter generasi muda agar memiliki identitas, kreativitas, dan kegiatan positif.
Budaya tidak akan bertahan hanya dengan mengenangnya. Ia harus diwariskan, dipraktikkan, dan diberi ruang untuk tumbuh. Demikian pula upaya melindungi generasi muda dari narkoba tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi membutuhkan keterlibatan nyata seluruh elemen masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Aliansi Pemuda Poros Tengah bersama masyarakat Pasuruan berupaya menunjukkan bahwa menjaga warisan leluhur sekaligus membangun masa depan generasi muda dapat berjalan beriringan dengan budaya sebagai salah satu kekuatan untuk membangun karakter, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
(Sofi)




