Kota Pasuruan, Suararakyat62.com –Banjir langganan di jembatan Sungai Buk Wedi, Jalan Ir H Juanda Kota Pasuruan kembali menjadi sorotan tajam terhadap kinerja Pemerintah Kota Pasuruan. Pada Senin malam (19/5/2025), jembatan vital di jalur pantura itu kembali terendam luapan air setinggi 30 cm, akibat debit Sungai Petung yang naik drastis menyusul hujan deras di wilayah hulu dan hilir.

Banjir mulai menggenangi jembatan sejak pukul 20.00 WIB, sehingga arus lalu lintas terpaksa dialihkan. Kendaraan dari arah Probolinggo dialihkan ke pertigaan Blandongan, sementara kendaraan roda empat dari arah barat diarahkan ke Tol dan Jalur Lingkar Selatan. Meski demikian, banyak pengendara roda dua nekat menerobos genangan demi pulang kerja.
“Ini kejadian berulang, tapi solusi dari pemerintah kota seakan tak pernah ada,” ujar Zen, warga sekitar yang mengamati langsung kejadian.
Menurut pantauan team Suararakyat62 banjir yang rutin terjadi setiap musim hujan ini disebabkan oleh pendangkalan Sungai Petung serta penyempitan aliran yang diperparah oleh sendimen yang tersangkut di bawah jembatan rel KA dan jembatan Buk Wedi. Kondisi ini diperparah oleh plengsengan yang tergerus akibat arus deras, membuat potensi kerusakan permanen semakin besar.
Achmad, S.Ip, pemerhati lingkungan dan kebijakan publik di Pasuruan, melontarkan kritik keras terhadap Pemkot Pasuruan. Ia menyebut bahwa pemerintah kota tak kunjung memiliki penanganan konkret terhadap persoalan ini.
“Masalah ini klasik dan terus berulang. Sayangnya, pemerintah justru lebih sibuk dengan proyek-proyek pencitraan seperti pembangunan monumen dan bangunan yang tidak menyentuh kebutuhan dasar warga. Padahal, banjir ini berdampak langsung pada akses masyarakat, ekonomi, dan keselamatan pengguna jalan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan setengah hati. Harus ada koordinasi serius antara Pemkot Pasuruan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, terutama dengan Dinas PU Sumber Daya Air. Ia mendorong agar dilakukan pembersihan sedimen di abutmen jembatan serta perbaikan plengsengan secara berkala.
“Normalisasi jangan hanya dilakukan sekali saat darurat. Minimal setiap tiga bulan harus ada pembersihan dan penguatan struktur. Masak kalah sama bangunan payung Madinah yang biaya perawatannya menyentuh angka fantastis? Lebih penting mana? Kepentingan rakyat atau validasi pejabat eksekutif yang tidak ada nilai ekonomisnya?” sindir Achmad tajam.

Namun, Walikota Pasuruan, Adi Wibowo, saat dikonfirmasi via telepon, menyatakan bahwa Sungai Petung, Sungai Welang, dan Sungai Gembong berada di bawah tanggung jawab Balai Provinsi. Ia juga menyebutkan bahwa Pemkot Pasuruan telah beberapa kali mengajukan normalisasi menyeluruh.
“Tahun ini kita sudah ajukan ke pusat untuk membangun jembatan Buk Wedi untuk dinaikkan dan bulan Juni ini akan dimulai dilaksanakan pembangunan selama 7 bulan ke depan. Semoga dengan upaya itu akan bisa mengatasi banjir yang selama ini terjadi,” ungkapnya.
Warga berharap, pemerintah berhenti menutup mata dan mulai bekerja nyata demi kepentingan masyarakat, bukan hanya mengejar citra di mata publik.
Tepat berita ini ditayangkan, kondisi banjir di sungai Petung sudah surut dan dilakukan pembersihan jalan. Akses lalin sudah buka kembali.
Penulis ; Sofii




