Ponorogo, SuaraRakyat62.com – Peringatan 100 hari kerja Bupati Ponorogo yang digelar di Alun-Alun Ponorogo, Jumat sore (30/5/2025), berujung ricuh. Kericuhan terjadi saat pertunjukan stand-up comedy berlangsung di tengah rangkaian acara, memicu reaksi keras dari sejumlah elemen masyarakat yang hadir.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Peringatan 100 Hari Kerja Bupati Ponorogo Terjadi Kericuhan

Acara yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB itu diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat dan organisasi lokal yang ingin mengevaluasi kinerja 100 hari kepemimpinan bupati. Namun, suasana berubah tegang ketika salah satu komika yang berasal dari luar daerah melontarkan candaan yang dianggap menghina simbol budaya Ponorogo.

Komika tersebut menyebut patung Reog di Kecamatan Sampung sebagai “patung kucing”, pernyataan yang langsung memicu kemarahan penonton. Beberapa anggota komunitas budaya dan kelompok masyarakat lokal merasa candaan tersebut melecehkan ikon kebanggaan daerah.

Anom, koordinator dari Pasukan Senopati dan Alap-alap Ponorogo, mengecam keras ucapan tersebut. Ia menyatakan bahwa patung Reog adalah simbol budaya yang sakral dan tidak pantas dijadikan bahan olok-olok.

“Acara ini awalnya untuk menghibur dan menjadi ajang evaluasi yang sehat. Tapi ketika ada ucapan yang merendahkan simbol budaya kami, tentu kami tidak bisa diam. Reog adalah kebanggaan masyarakat Ponorogo, bukan bahan lelucon. Kami akan melaporkan tindakan ini ke aparat penegak hukum,” tegas Anom di lokasi kejadian.

Komika yang lakukan Penghinaan Terhadap Patung Reog, meminta maaf secara terbuka di hadapan masyarakat yang hadir.

Kericuhan sempat membuat suasana di alun-alun memanas. Sejumlah warga terlihat berteriak dan mencoba mendekati panggung pertunjukan. Beruntung, aparat keamanan yang berjaga segera mengendalikan situasi dan membubarkan acara demi mencegah eskalasi lebih lanjut.

Insiden ini menjadi sorotan publik, mengingat Reog bukan hanya kesenian lokal, tetapi juga warisan budaya Indonesia yang telah mendunia. Banyak pihak menyesalkan kurangnya sensitivitas budaya dari pengisi acara dan berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Masyarakat menyerukan agar panitia acara lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih pengisi acara, khususnya dalam konteks acara yang bersinggungan dengan nilai-nilai budaya lokal.

 

Pewarta ; Puryadi