Ngawi, SuaraRakyat62.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi bergerak cepat merespons kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dengan menggelar Gerakan Pangan Murah di Alun-alun Merdeka Ngawi, Rabu (15/7/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengendalikan laju inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Kenaikan harga mulai terlihat pada beberapa komoditas utama. Berdasarkan pemantauan hingga Rabu (15/7/2026), harga telur ayam negeri di tingkat konsumen naik menjadi Rp23.600 per kilogram dari sebelumnya Rp22.000 per kilogram. Sementara itu, harga daging ayam potong turut mengalami kenaikan dari Rp32.000 menjadi sekitar Rp35.000 per kilogram.
Sebagai bentuk intervensi pasar, Pemkab Ngawi menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar. Dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah tersebut, telur ayam dijual seharga Rp21.000 per kilogram, sedangkan daging ayam potong dibanderol Rp30.000 per kilogram.
Program ini disambut antusias masyarakat. Sejak pagi, warga memadati lokasi pasar murah untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, sehingga dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga di tengah tren kenaikan harga.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, mengatakan Gerakan Pangan Murah merupakan program yang secara rutin dilakukan pemerintah daerah sebagai instrumen menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap bahan pangan dengan harga yang wajar.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan terjangkau oleh masyarakat. Dengan harga yang stabil, inflasi dapat ditekan sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujar pria yang akrab disapa Antok.
Menurutnya, pengendalian harga tidak hanya dilakukan melalui pasar murah di pusat kota, tetapi juga dengan memperkuat distribusi pangan hingga ke seluruh kecamatan di Kabupaten Ngawi.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah menerapkan pola distribusi komoditas berdasarkan potensi produksi di masing-masing wilayah. Daerah yang mengalami kekurangan produksi akan mendapatkan pasokan dari wilayah yang memiliki surplus, sehingga ketersediaan barang tetap terjaga dan gejolak harga dapat diminimalkan.
“Misalnya wilayah yang produksi gabahnya terbatas akan mendapatkan pasokan dari daerah yang surplus. Begitu juga komoditas sayuran, telur, hingga cabai akan didistribusikan sesuai kondisi produksi masing-masing wilayah agar pasokan tetap merata dan harga tetap stabil,” jelasnya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Ngawi tersebut menambahkan, Gerakan Pangan Murah akan terus digelar secara berkala di berbagai titik di Kabupaten Ngawi. Pelaksanaannya didasarkan pada hasil evaluasi mingguan yang dilakukan bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terhadap perkembangan harga berbagai komoditas pangan.
“Setiap minggu kami melakukan evaluasi bersama TPID. Jika ada komoditas yang mulai mengalami kenaikan dan berpotensi memicu inflasi, maka pemerintah akan segera melakukan intervensi melalui Gerakan Pangan Murah,” tegasnya.
Melalui langkah tersebut, Pemkab Ngawi berharap stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga, inflasi daerah dapat dikendalikan, serta masyarakat tidak terbebani oleh lonjakan harga pangan yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga. (Pr)




