Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus membenahi sistem pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Wonokerto. Salah satu fokus utama pembenahan adalah optimalisasi instalasi pengolahan air lindi untuk menekan potensi pencemaran lingkungan.

Pembenahan dilakukan setelah DLH menemukan sejumlah bagian sistem pengolahan lindi yang belum berfungsi secara maksimal. Kondisi tersebut membuat aliran air lindi belum seluruhnya masuk ke instalasi pengolahan sebagaimana mestinya.
Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, M. Nur Kholis, mengatakan perbaikan instalasi menjadi salah satu prioritas untuk memastikan air lindi dapat dikelola dengan baik dan memenuhi standar lingkungan.
“Saat ini kami sedang memperbaiki instalasi lindi. Harapannya kolam lindi dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya sehingga pengelolaan limbah cair menjadi lebih optimal,” ujar Kholis, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, air lindi terbentuk dari proses pembusukan sampah maupun air hujan yang meresap ke dalam timbunan sampah. Volume lindi pun dapat terus bertambah sehingga membutuhkan sistem pengolahan yang memadai.
Karena itu, DLH membangun dan memperbaiki jalur aliran agar air lindi dapat masuk ke instalasi pengolahan melalui jalur yang telah ditentukan.
“Yang kami benahi sekarang bagaimana supaya lindi dapat mengalir melalui jalur yang benar menuju instalasi pengolahan. Dengan begitu tidak menimbulkan dampak pencemaran,” jelasnya.
Teknologi Pengolahan Diperbarui
Selain memperbaiki jaringan saluran, DLH juga melakukan pembaruan terhadap teknologi pengolahan air lindi. Sistem tersebut akan mengombinasikan proses mekanik dan kimiawi untuk memisahkan air dari endapan atau material padat yang terkandung dalam limbah cair.
Pada tahap awal, air lindi akan melalui proses pemberian bahan kimia untuk mengikat partikel pencemar. Selanjutnya, endapan yang terbentuk dipisahkan menggunakan sistem mekanis sebelum air memasuki tahapan pengolahan berikutnya.
“Prinsipnya limbah diproses sehingga padatan dan airnya terpisah. Dengan cara ini potensi pencemaran lingkungan bisa ditekan,” kata Kholis.
Secara keseluruhan, pekerjaan pembenahan mencakup pembangunan dan perbaikan saluran lindi menggunakan U-Ditch, rehabilitasi bangunan instalasi pengolahan air lindi (IPAL), pembangunan area pre-treatment, serta optimalisasi sistem pengolahan limbah.
DLH juga membangun fasilitas pencucian kendaraan operasional TPA sebagai bagian dari pembenahan fasilitas pendukung pengelolaan sampah.
Selain itu, rencananya akan dipasang paranet di sejumlah area TPA untuk mengurangi sampah ringan yang berpotensi beterbangan ketika tertiup angin.
Kholis menyebut pembenahan instalasi lindi menjadi salah satu prioritas karena merupakan bagian dari rekomendasi hasil evaluasi pengelolaan TPA.
“Harapannya dengan sistem yang lebih baik, pengelolaan sampah di TPA Wonokerto semakin memenuhi standar lingkungan dan potensi dampaknya terhadap kawasan sekitar dapat diminimalkan,” ujarnya.
Progres Pekerjaan Capai 60 Persen
Sementara itu, mandor pelaksana proyek, Wahab, mengatakan pekerjaan di lapangan masih berjalan sesuai jadwal.
Hingga awal Agustus 2026, progres pekerjaan sipil disebut telah mencapai sekitar 60 persen. Pekerjaan yang telah dilakukan meliputi pembangunan saluran, rolak, hingga pengecoran lantai.
“Pekerjaan sipil seperti pembangunan saluran, rolak, dan pengecoran lantai sudah sekitar 60 persen. Selanjutnya akan dilanjutkan pemasangan konstruksi baja,” pungkas Wahab.
Pembenahan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan efektivitas pengolahan air lindi, tetapi juga memperkuat sistem pengelolaan TPA Wonokerto secara keseluruhan sehingga lebih aman bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
(Ilham)




