Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Pemerintah Kabupaten Trenggalek memperkuat komitmen pelestarian lingkungan melalui inventarisasi keanekaragaman hayati (kehati) yang dirangkum dalam buku Biodiversitas Trenggalek 2025. Publikasi ini diposisikan sebagai sarana edukasi masyarakat sekaligus fondasi penyusunan kebijakan konservasi guna menjaga keseimbangan ekosistem.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan bahwa pendataan biodiversitas penting agar masyarakat memahami ketergantungan manusia terhadap alam serta mencegah kerusakan ekosistem akibat eksploitasi yang tidak terkendali.
Sebagai bagian dari sosialisasi, Pemkab Trenggalek bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur menggelar bedah buku di Amphitheater Hutan Kota (Huko) Gunung Jaas, Senin (9/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran kepala OPD, pengelola kawasan penelitian, komunitas, perwakilan masyarakat, serta media.
Buku setebal 139 halaman itu merupakan hasil inventarisasi kehati di empat lokasi utama, yakni Mangrove Cengkrong, Hutan Kota Trenggalek, Perkebunan Dilem Wilis, serta jalur pendakian Botoputih. Pendataan yang dilakukan pada Oktober 2025 mencakup berbagai kelompok satwa dan tumbuhan, mulai dari flora, burung, kupu-kupu, herpetofauna, hingga mamalia.
Mas Ipin—sapaan akrab Bupati Trenggalek—mengaku bangga atas terbitnya buku tersebut. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar informasi kehati tidak disalahgunakan.
“Di satu sisi saya bangga, di sisi lain ada rasa khawatir. Jangan sampai publikasi ini justru memicu perburuan satwa,” ujarnya.
Menurutnya, inventarisasi biodiversitas memiliki peran strategis sebagai media edukasi publik sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menekankan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keberlanjutan alam.
“Kita hidup tergantung pada alam. Udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, semuanya bersumber dari alam. Jika rantai makanan terputus, satwa bisa masuk permukiman dan mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya.
Sebagai daerah agraris, Trenggalek juga bergantung pada penyerbuk alami seperti kupu-kupu, burung, dan kelelawar. Diperkirakan 70–75 persen proses penyerbukan tanaman masih mengandalkan satwa-satwa tersebut, yang berdampak langsung pada hasil panen masyarakat.
Karena itu, Mas Ipin yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Trenggalek menekankan pentingnya menyiapkan “guardian” atau penjaga konservasi melalui edukasi publik berkelanjutan. Ia mengapresiasi peran Akhmad David Kurnia Putra, penulis buku sekaligus pemenang Festival Gagasan Lan Aksi (Galaksi) 2025, yang aktif memberikan edukasi kehati ke sekolah-sekolah.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengapresiasi langkah Trenggalek sebagai kabupaten pertama di Jawa Timur yang menyusun dokumen kehati sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati. Ia menilai pembangunan berbasis pelestarian alam merupakan arah yang tepat, sekaligus membuka peluang ekonomi ramah lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Trenggalek merencanakan pembangunan Biodiversity Park di kawasan Hutan Kota dengan konsep aviary raksasa. Konsep ini memungkinkan satwa hidup lebih alami tanpa kandang sempit, sekaligus menjadi ruang edukasi dan wisata berbasis konservasi.
Melalui langkah ini, Pemkab Trenggalek bersama BBKSDA Jawa Timur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga habitat flora dan fauna dengan memperhatikan penutup lahan, tempat berlindung, serta ketersediaan air, demi keberlanjutan ekosistem dan masa depan lingkungan Trenggalek.
(Yoyok)




