Banda Aceh, SuaraRakyat62.com – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Aceh meluncurkan Posko Pengaduan Mahasiswa dan menggelar Diskusi Publik bertema “Pendidikan dan Ketimpangan Sosial dalam Negara Demokrasi”, Minggu (11/05/2025), di Aula Kantor Wali Kota Lhokseumawe. Acara ini menyoroti tajam persoalan akses pendidikan dan ketimpangan sosial yang semakin nyata di tengah masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan aktivis sosial yang mengangkat satu isu besar: demokrasi yang masih berpihak pada elit, bukan rakyat kecil.

Ketua EW-LMND Aceh, Iswandi, S.IP, dalam sambutannya menegaskan bahwa mahasiswa harus menjadi motor perubahan. “Mahasiswa bukan hanya penonton di tengah carut-marut sistem, tapi penggerak. Posko ini bukti nyata bahwa kami berpihak pada yang tertindas,” katanya lantang.
Iswandi juga menekankan bahwa Sekolah Rakyat menjadi solusi nyata untuk pendidikan alternatif, terutama bagi mereka yang terpinggirkan oleh sistem formal. “Pendidikan harus memerdekakan, bukan meminggirkan,” tegasnya.
Dosen Universitas Malikussaleh, Dr. Nur Hafni, S.Sos, MPA, menyuarakan perlunya kebijakan pendidikan bebas dari kepentingan elit. “Jika negara benar demokratis, maka akses pendidikan harus adil dan merata. Bukan hanya untuk mereka yang mampu bayar mahal,” ujarnya.

Senada, Muhammad Furqan, staf DPD B, menilai ketimpangan pendidikan sebagai ancaman masa depan bangsa. “Keadilan sosial hanya bisa tercapai jika demokrasi memberi ruang pada semua anak bangsa untuk mengakses pendidikan,” jelasnya.
Sementara itu, akademisi Kamaruddin, S.Sos, M.Si, mengkritik keras realitas kampus yang semakin kapitalistik. “Biaya kuliah tinggi menjadikan kampus sebagai benteng eksklusif. Pendidikan tidak boleh jadi komoditas,” katanya.
Rizal Bahari, Ketua KPW SMUR Lhokseumawe, menutup diskusi dengan menyatakan bahwa mahasiswa hari ini harus membangun solidaritas kelas. “Ketimpangan sosial lahir dari sistem yang menindas. Mahasiswa tidak bisa netral dalam situasi ini,” tegasnya.
Diskusi dipandu dengan dinamis oleh Lidya Gusmita dan memunculkan banyak aspirasi. Mulai dari mahalnya biaya pendidikan, kurangnya fasilitas bagi masyarakat miskin, hingga perlunya tekanan kolektif terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.
Peluncuran Posko Pengaduan Mahasiswa menjadi penanda bahwa LMND Aceh tak hanya bicara di forum, tapi juga bergerak. Posko ini akan menjadi tempat menampung laporan, keluhan, hingga advokasi terhadap berbagai persoalan kampus dan sosial.

Acara ditutup dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk terus memperjuangkan pendidikan yang adil, gratis, dan berpihak kepada rakyat. Semangat perubahan digaungkan, menandai lahirnya gerakan mahasiswa yang tak hanya kritis, tapi juga berani bertindak.
Gerakan mahasiswa bukan soal demo semata, tapi tentang keberanian melawan ketidakadilan yang dibungkus rapi oleh sistem. LMND Aceh menunjukkan bahwa harapan itu masih ada di tangan generasi muda yang sadar dan peduli.
Sumber ; EW-LMND Aceh
Editor ; Achmad – Ex LMND Surabaya 2012




