Malang, SuaraRakyat62.com – Kajian&Opini

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Menakar Relevansi Dasa Darma: Menempa Hukum dan Mentalitas Bangsa melalui Gerakan Pramuka

Oleh: Ach Hussairi, S.H., M.H.(Praktisi Hukum & Alumni Saka Bakti Husada Gondanglegi, Malang


Setiap 14 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka. Momentum ini semestinya tidak berhenti pada upacara, seragam, baris-berbaris, maupun berbagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, Hari Pramuka merupakan kesempatan untuk kembali mempertanyakan satu hal mendasar: sejauh mana nilai-nilai kepramukaan masih relevan dalam membentuk karakter manusia Indonesia di tengah perubahan zaman?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan, mulai dari krisis integritas, intoleransi, lemahnya disiplin sosial, hingga menurunnya kepercayaan terhadap institusi publik. Dalam konteks tersebut, Gerakan Pramuka sesungguhnya memiliki modal nilai yang sangat kuat untuk menjadi bagian dari solusi.

Salah satu fondasi utama pendidikan kepramukaan adalah Dasa Darma Pramuka. Sepuluh nilai tersebut bukan sekadar hafalan yang diucapkan ketika mengikuti kegiatan Pramuka. Jika dipahami secara substantif, Dasa Darma merupakan seperangkat prinsip etis yang berkaitan erat dengan pembentukan karakter, tanggung jawab sosial, kepemimpinan, serta integritas seseorang.

Dari Latihan Pramuka Menuju Integritas Profesi

Bagi saya, hubungan antara pendidikan kepramukaan dan pembentukan karakter bukanlah sekadar teori.

Jauh sebelum mendalami pasal-pasal hukum di bangku perguruan tinggi, saya telah mengenal arti kedisiplinan, tanggung jawab dan pengabdian melalui pengalaman sebagai bagian dari Saka Bakti Husada Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Di bawah pembinaan Puskesmas dan para pembina serta mentor pada masa itu, kegiatan Saka Bakti Husada tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kesehatan masyarakat dan pertolongan pertama.

Lebih dari itu, terdapat proses pembentukan mental.

Kami belajar bagaimana menghadapi situasi di lapangan, bekerja dalam kelompok, mengambil keputusan, membantu masyarakat dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang mungkin tidak selalu ditemukan dalam ruang kelas: bahwa pengetahuan tanpa karakter dapat kehilangan arah, sedangkan kemampuan tanpa integritas dapat berbahaya bagi orang lain.

Kini, ketika saya menjalani profesi sebagai praktisi hukum, nilai-nilai tersebut menemukan relevansinya dalam bentuk yang berbeda.

Dunia hukum tidak hanya membutuhkan orang yang memahami peraturan. Hukum juga membutuhkan manusia yang memiliki keberanian moral untuk menjalankan prinsip keadilan secara objektif, bertanggung jawab dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan di luar hukum.

Dasa Darma dan Problem Integritas Hukum

Dalam perspektif hukum, salah satu persoalan paling fundamental bukan hanya bagaimana aturan dibuat, tetapi bagaimana aturan tersebut dijalankan.

Sistem hukum yang baik membutuhkan substansi hukum yang jelas, struktur penegakan hukum yang kuat, serta budaya hukum yang sehat. Di sinilah pendidikan karakter memiliki posisi penting.

Nilai Dasa Darma seperti “suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan” serta “bertanggung jawab dan dapat dipercaya” memiliki korelasi kuat dengan prinsip integritas dalam profesi hukum.

Seorang penegak hukum, misalnya, tidak cukup hanya mengetahui apa yang benar secara normatif. Ia juga dituntut memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran ketika menghadapi tekanan, kepentingan, bahkan kemungkinan konflik kepentingan.

Dengan demikian, pendidikan karakter bukan sesuatu yang berada di luar sistem hukum. Sebaliknya, karakter merupakan salah satu fondasi sosial yang menentukan apakah hukum dapat bekerja secara efektif.

Hukum yang baik membutuhkan manusia yang baik untuk menjalankannya.

Sebaliknya, aturan sebaik apa pun dapat kehilangan makna apabila dijalankan oleh manusia yang tidak memiliki integritas.

Pramuka Bukan Sekadar Ekstrakurikuler

Dalam perkembangan pendidikan modern, Gerakan Pramuka tidak seharusnya ditempatkan sekadar sebagai kegiatan tambahan di sekolah.

Pramuka memiliki karakter pendidikan yang khas karena menggabungkan pengetahuan, pengalaman, kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan dan pengabdian.

Anak muda tidak hanya diberi tahu bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tetapi juga dilatih untuk mempraktikkannya.

Ketika seorang anggota Pramuka belajar mendirikan tenda, melakukan pertolongan pertama, bekerja dalam regu, mengikuti kegiatan sosial atau membantu masyarakat dalam kondisi tertentu, sebenarnya sedang berlangsung proses pendidikan karakter yang bersifat praktis.

Nilai gotong royong, kemandirian, kepedulian dan tanggung jawab tidak berhenti sebagai teori.

Di sinilah salah satu kekuatan Gerakan Pramuka.

Relevansi di Tengah Perubahan Zaman

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu. Teknologi digital memberikan akses informasi yang luar biasa besar, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan baru.

Disinformasi, budaya instan, perundungan digital, ujaran kebencian dan rendahnya literasi informasi menjadi persoalan yang membutuhkan ketahanan karakter.

Karena itu, nilai kepramukaan justru semakin relevan.

Dasa Darma dapat diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan digital. “Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan”, misalnya, dapat dimaknai sebagai dorongan untuk tidak menyebarkan informasi palsu, tidak melakukan perundungan, tidak memproduksi fitnah, serta bertanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan kepada publik.

Sementara prinsip bertanggung jawab dan dapat dipercaya dapat diterapkan dalam bagaimana seseorang menggunakan media sosial, menyampaikan pendapat, bekerja, berorganisasi maupun menjalankan profesinya.

Dengan kata lain, tantangannya bukan apakah Dasa Darma masih relevan, tetapi bagaimana nilai tersebut diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan generasi sekarang.

Pramuka dan Masa Depan Hukum Indonesia

Jika ingin membangun sistem hukum yang lebih berintegritas, pembentukan karakter tidak dapat dimulai ketika seseorang telah menjadi pejabat, aparat atau profesional.

Ia harus dimulai jauh sebelumnya.

Sekolah, keluarga, organisasi kepemudaan dan Gerakan Pramuka memiliki peran strategis dalam proses tersebut.

Pramuka dapat menjadi salah satu ruang pembentukan calon pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan bukan privilese, melainkan tanggung jawab; bahwa jabatan bukan fasilitas untuk kepentingan pribadi, melainkan amanah; dan bahwa keberanian bukan berarti bertindak tanpa aturan, melainkan berani berdiri di atas prinsip yang benar.

Dari perspektif tersebut, pengalaman di Saka Bakti Husada bagi saya bukan sekadar bagian dari perjalanan masa muda. Ia menjadi salah satu proses pembentukan karakter yang kemudian terbawa ke dalam kehidupan profesional.

Menjadikan Dasa Darma sebagai Etika Kehidupan

Pada akhirnya, keberhasilan Gerakan Pramuka tidak seharusnya diukur hanya dari jumlah kegiatan, peserta, lomba atau penghargaan yang diperoleh.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa jauh nilai-nilai kepramukaan hidup dalam perilaku anggotanya setelah mereka keluar dari arena kegiatan Pramuka.

Apakah mereka menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab?

Apakah mereka berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah?

Apakah mereka mampu menjaga kepercayaan?

Apakah mereka memiliki kepedulian terhadap masyarakat?

Dan yang paling penting, apakah nilai-nilai tersebut tetap mereka pegang ketika berhadapan dengan kepentingan, tekanan dan godaan?

Jika jawabannya adalah iya, maka Gerakan Pramuka telah menjalankan fungsi pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Karena itu, Dasa Darma tidak seharusnya berhenti sebagai teks yang dihafalkan oleh peserta didik. Ia harus menjadi etika yang dipraktikkan dalam kehidupan.

Bagi dunia hukum, nilai tersebut merupakan pengingat bahwa keadilan tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga manusia yang memiliki integritas untuk menjalankannya.

Bagi bangsa, Dasa Darma dapat menjadi salah satu fondasi moral untuk melahirkan generasi yang disiplin, tangguh, bertanggung jawab dan memiliki keberanian untuk membela kebenaran.

Selamat Hari Pramuka

Mari menjadikan Gerakan Pramuka bukan sekadar tempat belajar berorganisasi, tetapi sebagai kawah pembentukan karakter, integritas dan kepemimpinan bangsa.

Sebab pada akhirnya, masa depan hukum Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik undang-undangnya, tetapi juga oleh seberapa berintegritas manusia yang menjalankannya.


Editor; Redaksi SuaraRakyat62