SUARARAKYAT62, PASURUAN –   Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Kidul Dalem, Kecamatan Wonorejo, pada Rabu (25/2) menuai kritik keras dari wali murid. Paket makanan yang dibagikan kepada siswa hanya berisi roti meses, kacang tanah, kue kecil, dan susu kotak, tanpa menu utama yang memenuhi unsur gizi seimbang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Menu Minin Gizi MBG di SPPG Kidul Dalem, Kualitas Penyedia Dipertanyakan

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius, apakah komposisi tersebut telah sesuai dengan standar gizi program MBG dan bagaimana mekanisme pengawasan terhadap pihak penyedia.

Berdasarkan pedoman umum pemenuhan gizi anak usia sekolah, satu porsi makan seharusnya mengandung karbohidrat utama, protein hewani atau nabati, sayur, buah, serta susu sebagai pelengkap.

Namun menu yang diterima siswa di SPPG Kidul Dalem justru didominasi makanan tinggi gula dan minim protein.

Sejumlah wali murid menilai paket tersebut lebih menyerupai makanan selingan dibanding makan utama penunjang aktivitas belajar.

“Ini bukan makan bergizi, ini jajanan. Anak berangkat pagi, pulang siang, hanya diberi seperti ini,” keluh salah satu wali murid.

Minimnya kualitas menu memicu dugaan adanya ketidaksesuaian antara besaran anggaran dengan makanan yang diterima siswa. Publik mulai mempertanyakan berapa nilai anggaran MBG per siswa per hari?

Transparansi menjadi kunci, mengingat program MBG merupakan program strategis yang menyangkut hak dasar anak terhadap pemenuhan gizi.

Selain penyedia, peran pihak sekolah dan tim pelaksana juga tak luput dari sorotan. Pengawasan kualitas menu seharusnya dilakukan sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Jika menu yang disajikan tidak sesuai standar, muncul dugaan lemahnya kontrol mutu dalam pelaksanaan, Apabila benar terdapat ketidaksesuaian antara anggaran dan kualitas makanan, maka hal ini berpotensi masuk pada pelanggaran standar layanan program, kelalaian dalam pemenuhan hak gizi peserta didik.

Wali murid mendesak adanya Evaluasi menu oleh ahli gizi. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar siswa itu kini justru memantik polemik.

Jika tidak segera dibenahi, MBG berisiko kehilangan kepercayaan publik dan hanya menjadi program formalitas tanpa dampak nyata bagi pemenuhan gizi anak.

Sampai berita ini ditulis, Suararakyat62.com menunggu jawaban resmi dari pengelolah SPPG.

Penulis : Abdul Khalim