Surabaya, SuaraRakyat62.com – Anggota Komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno, menegaskan bahwa pembangunan karakter bangsa (nation character building) harus menjadi arus utama dalam setiap kebijakan pendidikan nasional. Penegasan tersebut disampaikannya saat membahas arah pembangunan pendidikan di Jawa Timur.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Puti Guntur Soekarno: Pendidikan Karakter Harus Jadi Arus Utama Kebijakan Nasional

Menurut Puti, berbagai persoalan sosial yang muncul di lingkungan pendidikan saat ini tidak terlepas dari lemahnya pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan ke depan tidak boleh hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama.

“Berbagai masalah yang kita temui bermuara pada pendidikan karakter. Ini harus benar-benar menjadi perhatian bersama dan diwujudkan dalam kebijakan ke depan di Komisi X, baik melalui kebijakan pemerintah maupun pembentukan undang-undang,” tegas Puti saat ditemui di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur, Senin (23/2/2026).

Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I itu menilai, penguatan karakter dapat dilakukan dengan mengaktifkan kembali ruang-ruang pembinaan siswa di sekolah. Di antaranya melalui kegiatan kepramukaan untuk membentuk kedisiplinan dan kepemimpinan, penguatan muatan lokal guna menanamkan nilai budaya daerah, serta revitalisasi pendidikan budi pekerti sebagai fondasi etika generasi muda.

Puti juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap peran guru dalam proses pembinaan siswa. Ia menilai ketegasan guru dalam mendisiplinkan peserta didik tidak seharusnya langsung dipersepsikan sebagai pelanggaran hukum, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan.

“Keluarga juga memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk akhlak dan etika anak, agar lahir generasi yang kompetitif namun tetap menjunjung tinggi sopan santun,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Selain isu karakter, Puti turut menyoroti tantangan lain dalam sektor pendidikan, yakni menurunnya angka partisipasi pendidikan pada jenjang menengah hingga perguruan tinggi di Jawa Timur. Meski partisipasi pendidikan dasar tergolong baik, penurunan pada level SMA/SMK dan pendidikan tinggi dinilai perlu mendapat perhatian serius.

Sebagai provinsi dengan kawasan industri berskala nasional, Jawa Timur memiliki peluang besar dalam penyerapan tenaga kerja muda. Namun demikian, Puti menilai masih terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Saya melihat belum ada link and match yang optimal antara lulusan SMA, SMK, maupun perguruan tinggi dengan dunia usaha di Jawa Timur,” ungkapnya.

Melalui penguatan pendidikan karakter yang diiringi penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, Puti berharap dunia pendidikan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga berkarakter kuat dan siap bersaing di dunia kerja.

 

 

(Ani)