Trenggalek, SuaraRakyat62.com – Kabupaten Trenggalek bersiap mencatatkan sejarah baru dalam pelestarian seni budaya dengan menggelar Festival Jaranan se-Indonesia pada Agustus 2026. Agenda budaya berskala nasional yang bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek itu diharapkan menjadi ikon baru daerah, sekaligus memperkuat identitas budaya dan menggerakkan sektor pariwisata serta ekonomi masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Trenggalek Siap Gelar Festival Jaranan se-Indonesia, DPRD Bidik Pelestarian Budaya dan Dongkrak Wisata

Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, menegaskan pemerintah daerah bersama DPRD memiliki komitmen kuat untuk menjaga eksistensi kesenian tradisional, khususnya jaranan, sebagai warisan budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Doding saat membuka pagelaran hiburan rakyat Kesenian Jaranan Senterewe Kuda Manggala di Desa Nglancor, Kecamatan Gandusari, Rabu (1/7/2026). Ribuan masyarakat tampak memadati lokasi pertunjukan, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap seni tradisional khas Trenggalek tersebut.

“Trenggalek kaya akan budaya, salah satunya kesenian jaranan. Sudah menjadi kewajiban wakil rakyat dan Pemkab Trenggalek untuk terus mewadahi bakat para seniman dalam kesenian jaranan. Mudah-mudahan lestari sepanjang masa,” ujar Doding.

Menurutnya, geliat kesenian jaranan di Trenggalek menunjukkan perkembangan yang sangat positif dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sempat mengalami kevakuman akibat pembatasan aktivitas selama pandemi Covid-19, kini berbagai kelompok jaranan kembali aktif tampil di berbagai wilayah. Bahkan, regenerasi pelaku seni mulai berjalan dengan baik ditandai semakin banyaknya generasi muda yang terlibat sebagai penari, penabuh gamelan, hingga penggerak komunitas seni.

Kondisi tersebut, kata Doding, menjadi modal besar bagi Trenggalek untuk menyelenggarakan Festival Jaranan se-Indonesia. Festival ini dirancang menghadirkan kelompok-kelompok kesenian dari berbagai provinsi, termasuk dari luar Pulau Jawa, sehingga menjadi ruang silaturahmi sekaligus ajang pertukaran budaya antardaerah.

Ia optimistis penyelenggaraan festival tidak hanya berdampak pada upaya pelestarian seni tradisional, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Kehadiran peserta dan wisatawan diperkirakan akan meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Trenggalek. Harapannya, agenda perdana ini bisa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” kata Doding yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek.

Menurutnya, keberhasilan festival tersebut akan menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata. Seni tradisional bukan hanya warisan leluhur yang harus dijaga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan daerah apabila dikelola secara berkelanjutan.

Festival Jaranan se-Indonesia diharapkan menjadi tonggak lahirnya agenda budaya nasional dari Trenggalek. Selain memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat perkembangan seni jaranan di Indonesia, kegiatan ini juga diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan, memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas, serta menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap warisan budaya bangsa.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, pelaku seni, dan masyarakat, Trenggalek optimistis Festival Jaranan se-Indonesia akan menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata daerah di masa mendatang.

 

(Yoyok)