Surabaya, SuaraRakyat62.com — Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa keberhasilan Kota Surabaya dalam menekan angka stunting tidak lepas dari semangat gotong royong dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Eri saat menghadiri penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) program Corporate Social Responsibility (CSR) penanganan stunting di Gedung Serbaguna RW VI Cempaka, Kecamatan Tegalsari, Rabu (13/5/2026).
Dalam sambutannya, Eri mengungkapkan angka stunting di Kota Surabaya kini berhasil ditekan hingga mencapai 0,5 persen. Angka tersebut turun drastis dibandingkan saat awal dirinya menjabat sebagai wali kota, di mana prevalensi stunting masih berada di angka 28,5 persen.
“Alhamdulillah, stunting hari ini turun menjadi 0,5 persen dibandingkan waktu awal saya jadi wali kota yang mencapai 28,5 persen,” ujar Eri.
Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan semata-mata hasil kerja pemerintah kota, melainkan buah dari kolaborasi bersama berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
“Hari ini menjadi 0,5 persen dengan kekuatan apa? Bukan dengan kekuatan wali kota, tetapi dengan kekuatan beliau-beliau ini,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah perusahaan dan lembaga sosial turut memperkuat komitmen penanganan stunting dan kemiskinan di Surabaya. Di antaranya Yayasan Buddha Tzu Chi, Ciputra Group, Pakuwon Group, Baznas Surabaya, Bangga Surabaya Peduli, hingga Nurul Hayat.
Suasana acara berlangsung hangat dan penuh nuansa kebersamaan. Perwakilan perusahaan, lembaga sosial, serta jajaran Pemerintah Kota Surabaya tampak hadir untuk memperkuat sinergi dalam menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.
Selain fokus pada penanganan stunting, Eri juga meninjau langsung empat rumah tidak layak huni (Rutilahu) di kawasan Kedondong Kidul, Kelurahan Tegalsari.
Ia menegaskan persoalan rumah tidak layak huni juga membutuhkan keterlibatan semua pihak karena jumlahnya masih cukup besar.
Saat ini, jumlah Rutilahu di Surabaya diperkirakan masih mencapai sekitar 7.000 hingga 9.000 unit.
“Kalau kami hanya mengandalkan pemerintah kota, itu tidak akan pernah mampu. Tapi kami mengajak semuanya dengan dasar Pancasila, yang intinya adalah gotong royong,” ujarnya.
Pemkot Surabaya sendiri menargetkan rehabilitasi sebanyak 4.242 unit rumah pada tahun 2026. Sebanyak 2.240 unit akan dibiayai melalui APBD Kota Surabaya, sementara 1.002 unit lainnya berasal dari jalur non-APBD seperti program CSR dan bantuan lembaga sosial.
Selain itu, sekitar 1.000 unit rumah juga akan mendapat bantuan stimulan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Eri menyebut sejak dirinya memimpin Kota Surabaya, sekitar 3.500 hingga 4.000 rumah tidak layak huni telah berhasil diperbaiki. Namun dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar tiga juta jiwa, kebutuhan bantuan perumahan masih cukup tinggi.

Dalam kesempatan itu, Eri juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi membantu masyarakat Surabaya. Ia bahkan menyebut para pimpinan perusahaan dan lembaga sosial sebagai bagian dari “Wali Kota Surabaya” karena kepedulian mereka terhadap warga kecil.
“Surabaya dibangun oleh warga dan orang-orang yang hebat, yang penuh cinta. Itulah Wali Kota Surabaya,” pungkasnya.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga sosial menjadi kekuatan utama dalam membangun Kota Surabaya yang lebih sehat dan sejahtera. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama, Pemkot Surabaya berharap penanganan stunting, kemiskinan, serta rumah tidak layak huni dapat terus dipercepat demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara merata.
(Ani)




