Harga Sawit Terjun Bebas, Pemerintah Dinilai Tak Pikirkan Nasib Petani

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Harga Sawit Terjun Bebas, Pemerintah Dinilai Tak Pikirkan Nasib Petani

SUARARAKYAT62, ROHUL- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di sejumlah daerah terus mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini memicu keluhan dari para petani sawit yang mengaku semakin terjepit akibat biaya produksi tinggi sementara harga jual hasil panen terus melemah.

Dikutip dari Media Center Riau di Provinsi Riau misalnya, harga TBS sawit petani mitra plasma periode Mei 2026 kembali turun menjadi sekitar Rp3.866 per kilogram. Penurunan dipicu melemahnya harga crude palm oil (CPO) dan kernel di pasar.

Sebelumnya, harga sawit sempat menyentuh angka di atas Rp4.000 per kilogram pada April 2026. Namun tren itu tidak bertahan lama dan kini kembali merosot.

Sejumlah petani menilai pemerintah belum serius melindungi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit. Mereka mengaku hanya menjadi korban fluktuasi pasar tanpa adanya kebijakan konkret yang mampu menjaga kestabilan harga di tingkat petani.

“Kalau harga terus turun begini, sementara pupuk mahal dan biaya perawatan tinggi, petani jelas menjerit,” keluh seorang petani sawit di Rokan Hulu, Kamis(21/5/2026).

Keluhan serupa juga muncul dari berbagai daerah penghasil sawit lainnya. petani mengeluhkan harga pembelian yang tidak seragam antar pabrik kelapa sawit (PKS), sehingga posisi tawar petani semakin lemah.

Petani berharap pemerintah pusat maupun daerah tidak hanya fokus pada kepentingan industri besar, tetapi juga memikirkan kesejahteraan petani kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi sawit nasional.

Mereka meminta pemerintah memperketat pengawasan tata niaga sawit, menstabilkan harga TBS, serta memastikan pabrik membeli hasil panen petani sesuai ketetapan harga resmi.

Dari pantauan, harga dipetani mencapai Rp.17.000-2000/kg yang sebelumnya diangka Rp.2800-3000/kg yang dibeli oleh pengepul, sedangkan pada harga PKS mencapai saat ini sudah diangka Rp.2.800/kg.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, petani khawatir banyak kebun sawit rakyat terbengkalai karena biaya operasional tidak lagi sebanding dengan hasil yang diperoleh.(es)