Surabaya, SuaraRakyat62.com – Potensi pariwisata Jawa Timur yang sangat beragam dinilai belum dikelola secara fokus dan terintegrasi. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat rata-rata lama tinggal atau length of stay wisatawan di Jawa Timur masih relatif rendah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Buruh Jatim Dihantam Gelombang PHK, Samuel Wattimena Minta Pemda Tak Tinggal Diam

Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menilai pemerintah daerah perlu melakukan pembenahan dalam pengelolaan dan pengemasan destinasi wisata agar mampu memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi wisatawan.

Hal tersebut disampaikan Samuel usai mengikuti pertemuan Komisi VII DPR RI dengan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam rangka Kunjungan Kerja Reses di Surabaya, Jumat (24/7/2026).

Menurut Samuel, banyaknya objek wisata yang dimiliki Jawa Timur seharusnya menjadi kekuatan besar untuk mendatangkan wisatawan sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian daerah. Namun, potensi tersebut perlu dikelola dengan strategi yang lebih terarah agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Kalau soal pariwisata, ini sama dengan beberapa daerah wisata di Indonesia yang objeknya sangat banyak sehingga praktis menjadi tidak fokus. Kemampuan kita melihat, mengolah, dan mengelola berbagai objek tersebut, berdasarkan paparan Pak Wakil Gubernur, masih perlu ditingkatkan,” ujar Samuel.

Ia menyoroti rata-rata lama tinggal wisatawan di Jawa Timur yang disebut masih sekitar satu setengah hari. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam mengemas destinasi wisata agar wisatawan tidak hanya datang untuk berkunjung, tetapi juga terdorong untuk tinggal lebih lama.

Samuel menilai pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan objek wisata. Pemerintah dan pelaku industri perlu membangun pengalaman wisata yang menarik, memiliki cerita kuat, serta didukung fasilitas dan layanan yang mampu membuat wisatawan ingin kembali.

Ia mencontohkan sejumlah destinasi wisata di luar negeri yang mampu menarik wisatawan meskipun objek yang ditawarkan relatif sederhana. Namun, destinasi tersebut dikemas dengan baik sehingga memiliki daya tarik tersendiri.

“Orang bisa pergi ke Jepang untuk melihat patung anjing di stasiun kereta, orang bisa pergi ke Belgia untuk melihat Manneken Pis. Mereka tinggal lebih dari satu setengah hari. Ini menunjukkan kemasan pariwisata kita masih sangat bisa ditingkatkan,” katanya.

Selain pengelolaan destinasi, Samuel juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata. Menurutnya, penguasaan teknologi dan transformasi digital harus menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor tersebut, terutama untuk memperkuat promosi dan memperluas jangkauan pemasaran destinasi wisata.

Di sisi lain, Samuel mengingatkan pemerintah daerah agar mulai mempersiapkan masyarakat menghadapi potensi dampak fenomena El Nino. Menurutnya, kekeringan berkepanjangan berpotensi memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Bagaimana kalau ada El Nino? Musim panas berkepanjangan, air akan sulit, panen terganggu. Ini tentu berdampak pada pariwisata dan UMKM. Karena itu masyarakat perlu dipersiapkan sejak dini melalui sosialisasi yang masif,” jelas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Tak hanya pariwisata, Samuel turut menyoroti tantangan ekonomi kreatif di Jawa Timur, khususnya di tengah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sektor industri padat karya.

Menurutnya, para pekerja yang terdampak PHK perlu mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan melalui program reskilling dan upskilling. Langkah tersebut dinilai penting agar mereka dapat beradaptasi dengan kebutuhan sektor ekonomi baru, termasuk ekonomi kreatif.

“Mantan buruh yang terkena PHK memiliki keahlian yang sangat spesifik. Harus ada pelatihan untuk menghadapi kondisi baru, dan itu harus menjadi fokus pembiayaan pemerintah daerah. Pada akhirnya, pengembangan ekonomi kreatif juga harus diikuti dengan penciptaan pasar yang mampu menyerap produk-produk mereka,” pungkasnya.

Sorotan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Timur. Kekayaan destinasi yang tersebar di berbagai wilayah perlu diikuti dengan strategi pengelolaan yang lebih terintegrasi, peningkatan kualitas SDM, penguatan promosi digital, serta penciptaan ekosistem ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan demikian, pariwisata Jawa Timur tidak hanya menjadi sektor yang kaya potensi, tetapi juga mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

 

(Ani)