Surabaya, SuaraRakyat62.com — Kepemimpinan Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Surabaya memasuki babak baru. Siti Mariyam, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya, terpilih sebagai Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Surabaya periode 2026–2031.

Siti Mariyam ditetapkan melalui musyawarah mufakat dalam Musyawarah Cabang (Muscab) Kwarcab Surabaya 2026 yang berlangsung di Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Sabtu (8/8/2026). Ia menggantikan Armuji, yang sebelumnya memimpin Kwarcab Surabaya periode 2021–2026.
Usai terpilih, Mariyam langsung menyampaikan sejumlah agenda yang akan menjadi perhatian selama lima tahun kepemimpinannya. Salah satu yang paling menonjol adalah rencana penyediaan bumi perkemahan di Surabaya.
Menurut Mariyam, keberadaan bumi perkemahan dibutuhkan untuk memberikan ruang yang lebih memadai bagi kegiatan kepramukaan. Selama ini, Surabaya dinilai belum memiliki lokasi khusus yang dapat digunakan secara optimal untuk berbagai aktivitas perkemahan dan kegiatan Pramuka.
Selain fasilitas utama tersebut, Mariyam juga ingin memperkuat keberadaan sanggar Pramuka di tingkat kwartir ranting (kwaran).
Sanggar tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat administrasi organisasi, tetapi juga menjadi ruang berkegiatan bagi anak-anak dan remaja.
“Kalau sanggar di kecamatan terpenuhi, nantinya bisa menjadi titik kumpul untuk bermusyawarah dan berkegiatan. Di sana anak-anak bisa mendapatkan wadah untuk melakukan kegiatan yang positif,” ujar Mariyam.
Mariyam mengatakan penyusunan kepengurusan Kwarcab Surabaya periode 2026–2031 akan segera dilakukan bersama tim formatur. Sesuai ketentuan organisasi, kepengurusan ditargetkan terbentuk paling lambat satu bulan setelah ketua terpilih ditetapkan.
“Kami akan secepatnya melakukan penyusunan pengurus karena program-program sudah menunggu,” katanya.
Percepatan tersebut berkaitan dengan sejumlah agenda kepramukaan yang sudah berada di depan mata. Di antaranya peringatan Hari Pramuka pada 14 Agustus, kegiatan ulang janji, pemberangkatan kontingen Surabaya menuju Jambore Nasional di Cibubur, serta persiapan Lomba Tingkat (LT) III yang dijadwalkan berlangsung pada September.
Selain persoalan fasilitas, Mariyam juga menaruh perhatian pada kaderisasi. Ia ingin memberikan ruang yang lebih besar kepada anggota muda untuk masuk dan terlibat dalam kepengurusan.
Menurutnya, regenerasi diperlukan agar terjadi proses pembelajaran dan kesinambungan kepemimpinan di tubuh Gerakan Pramuka Surabaya.
“Harapan kami, khususnya yang masih muda, bisa ikut mengisi kepengurusan. Mereka bisa belajar selama lima tahun ke depan sehingga menjadi pengurus yang tangguh,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kwarcab Surabaya periode 2021–2026, Armuji, menilai berbagai capaian organisasi selama lima tahun terakhir merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran.
Salah satu capaian yang dicatat adalah keberhasilan Gerakan Pramuka Surabaya meraih tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Kwarcab Surabaya pada periode sebelumnya juga telah memiliki gedung yang dinilai representatif untuk mendukung aktivitas organisasi.
Meski demikian, Armuji mendorong kepengurusan baru untuk tidak berhenti pada capaian yang telah diraih. Menurutnya, peningkatan fasilitas kepramukaan, khususnya pembangunan bumi perkemahan di Surabaya, masih menjadi pekerjaan yang perlu dilanjutkan.
“Siapa pun yang memimpin harus bisa totalitas dan menjalin kerja sama dengan semua pihak dengan baik. Yang terpenting, pengurus harus kompak dan solid untuk memajukan Kwarcab Surabaya,” kata Armuji.
Wakil Ketua Bidang Saka dan Pramuka Produktif Kwarda Jawa Timur, Basuki Babussalam, menegaskan Muscab bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan.
Menurutnya, Muscab juga menjadi ruang evaluasi terhadap kepengurusan sebelumnya sekaligus menentukan arah program Gerakan Pramuka Surabaya untuk lima tahun mendatang.
Basuki meminta program kerja Kwarcab Surabaya periode 2026–2031 tetap bersinergi dengan program Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur dan Kwartir Nasional (Kwarnas).

Sejumlah program yang didorong antara lain renovasi satu rumah satu Gugus Depan (Gudep), Gudep ketahanan pangan, pengembangan film pendek, energi terbarukan, hingga pengolahan sampah.
Dalam Muscab tersebut, Siti Mariyam akan menyusun kepengurusan bersama tim formatur yang terdiri atas Armuji dari unsur Mabicab, Sholikin dari unsur demisioner, serta Ketut Edi Saputro dan Lis Lestari dari unsur Kwartir Ranting.
Forum juga menetapkan Lembaga Pemeriksa Keuangan (LPK) Kwarcab Surabaya. Struktur tersebut diisi Soebeno Wahyudi sebagai ketua, Antonius Catur sebagai wakil ketua, Rifatul Ampera Wati sebagai sekretaris, serta Samsul Hidayah dan Sukarti sebagai anggota.
Dengan terpilihnya Siti Mariyam, tantangan Kwarcab Surabaya selama lima tahun ke depan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan capaian sebelumnya, tetapi juga memastikan rencana pembangunan fasilitas, penguatan kegiatan di tingkat kecamatan, serta regenerasi pengurus benar-benar dapat diwujudkan.
Bumi perkemahan yang menjadi salah satu target utama kini menjadi pekerjaan rumah baru. Realisasinya tentu membutuhkan dukungan lintas pihak, baik pemerintah, dunia pendidikan, masyarakat maupun seluruh jajaran Gerakan Pramuka.
(Ani)




