Jakarta, SuaraRakyat62.com – Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nasyirul Falah Amru atau yang akrab disapa Gus Falah, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya seorang anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) saat menjalankan tugas dalam operasi penangkapan bandar narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Kamis (2/7/2026) dini hari.

Gus Falah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum dan seluruh jajaran Polri yang kehilangan salah satu putra terbaik bangsa saat menjalankan tugas negara dalam memberantas peredaran narkotika.
“Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas gugurnya anggota Polri yang bertugas menegakkan hukum dan memberantas peredaran narkotika. Pengorbanan beliau adalah bentuk pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara,” ujar Gus Falah, Kamis (2/7/2026).
Menurut legislator yang duduk di Komisi III DPR RI tersebut, anggota Polri yang gugur dalam menjalankan tugas layak memperoleh penghormatan tertinggi dari negara. Ia menilai pengabdian dan keberanian aparat yang mengorbankan nyawa demi melindungi masyarakat patut dikenang sebagai teladan bagi seluruh aparat penegak hukum.
Karena itu, Gus Falah mengusulkan agar pemerintah memberikan gelar anumerta “Pahlawan Bhayangkara” sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi, keberanian, dan pengorbanan anggota Polri yang gugur saat menjalankan tugas.
“Mereka layak disebut sebagai Pahlawan Bhayangkara. Negara perlu memberikan penghargaan berupa gelar anumerta sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi, keberanian, dan pengorbanan mereka dalam menjaga keamanan masyarakat serta menegakkan hukum,” tegasnya.
Gus Falah juga memberikan apresiasi kepada seluruh personel kepolisian yang terus berada di garis depan dalam memerangi peredaran gelap narkotika. Menurutnya, tugas tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi, namun tetap dijalankan dengan penuh dedikasi demi melindungi masyarakat dari ancaman penyalahgunaan narkoba.
Ia menegaskan bahwa perang melawan narkotika tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat agar jaringan peredaran narkoba dapat diberantas hingga ke akar-akarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari personel di lapangan, peristiwa bermula ketika Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan maraknya peredaran narkotika jenis sabu di Desa Tumbang Kalemei. Dalam operasi tersebut, petugas memburu seorang pria berinisial BIO, yang diketahui merupakan residivis kasus narkotika, bersama rekannya berinisial BUSU.
Petugas berhasil mengamankan BIO. Namun situasi berubah ketika keluarga target melakukan perlawanan terhadap aparat yang sedang menjalankan penangkapan. Dalam insiden tersebut, seorang anggota Polri gugur saat melaksanakan tugas negara.
Menanggapi peristiwa itu, Gus Falah meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ia juga menegaskan bahwa seluruh pihak yang terbukti melakukan kekerasan atau menghalangi petugas harus diproses secara adil tanpa pandang bulu.
“Pengorbanan almarhum tidak boleh sia-sia. Negara harus hadir memberikan penghormatan yang layak kepada keluarga yang ditinggalkan, sekaligus memastikan penegakan hukum berjalan secara tegas terhadap siapa pun yang menghalangi atau melakukan kekerasan terhadap aparat yang sedang menjalankan tugas,” pungkas Gus Falah.
Menurut Gus Falah, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkotika merupakan perjuangan bersama yang memerlukan dukungan seluruh elemen bangsa. Ia berharap pengorbanan anggota Polri tersebut semakin memperkuat komitmen negara dalam memerangi peredaran narkoba sekaligus meningkatkan perlindungan bagi aparat yang bertugas di lapangan.
(Gloria/Gesuri)




