
PASURUAN, SUARARAKYAT62.COM
Peringatan Hari Pahlawan yang semestinya menjadi momentum sakral untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan justru menuai sorotan di Desa Tejowangi, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Jumat (6/11).
Sorotan tersebut muncul menyusul publikasi kegiatan bertajuk Gebyar UMKM – Pergerakan Ekonomi Akar Rumput yang dijadwalkan berlangsung Jumat (6/11/2026). Ironisnya, kegiatan yang mengusung slogan “Semangat Hari Pahlawan” itu justru menonjolkan hiburan sound system berdaya besar atau sound horeg, penampilan DJ, serta tiga dancer.
Dalam poster kegiatan yang beredar, kemeriahan hiburan malam bahkan menjadi salah satu daya tarik utama. Promosi menampilkan DJ Selly, tiga dancer, Brawog Audio, dan BRE Organizer, lengkap dengan slogan yang menonjolkan kekuatan dentuman bass.
Kondisi tersebut memunculkan kritik dari sejumlah warga Tejowangi yang mempertanyakan relevansi konsep hiburan tersebut dengan nilai-nilai perjuangan para pahlawan.
Salah seorang warga menyayangkan momentum Hari Pahlawan yang menurutnya seharusnya diisi dengan kegiatan yang lebih mencerminkan penghormatan terhadap jasa para pejuang kemerdekaan.
“Seharusnya momentum Hari Pahlawan diisi dengan doa bersama untuk mengenang dan mendoakan arwah para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan. Bukan justru lebih menonjolkan euforia dancer dan hiburan sound horeg,” ungkap warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Bahkan, warga tersebut menilai penggunaan tema Hari Pahlawan dalam kemasan acara semacam itu berpotensi menimbulkan kesan adanya pembelokan makna sejarah.
Menurutnya, perjuangan para pahlawan bukan sekadar simbol yang dapat ditempelkan pada sebuah poster kegiatan. Ada nilai pengorbanan, keberanian, persatuan, dan penghormatan terhadap sejarah bangsa yang semestinya dijaga.
“Jangan sampai sejarah perjuangan bangsa hanya dijadikan slogan untuk membungkus kegiatan hiburan. Kita harus menghormati jasa para pahlawan. Setidaknya ada doa bersama, penghormatan kepada para pejuang, atau kegiatan sosial yang benar-benar mencerminkan semangat Hari Pahlawan,” lanjutnya.
Di sisi lain, pemberdayaan UMKM tentu merupakan kegiatan positif yang patut didukung. Namun, ketika kegiatan tersebut membawa nama Hari Pahlawan, penyelenggara juga perlu mempertimbangkan nilai historis dan kepantasan konsep acara agar tidak mengaburkan esensi peringatan.
Sorotan terhadap kegiatan tersebut juga diarahkan pada aspek pengawasan dan ketertiban umum.
Awak media telah berupaya menghubungi Polsek Purwosari maupun Polres Pasuruan untuk meminta konfirmasi mengenai aspek perizinan, pengamanan, serta pengawasan penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Namun, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh tanggapan dari kedua institusi kepolisian tersebut.
Publik tentu berharap aparat memberikan penjelasan secara terbuka, khususnya terkait pemenuhan ketentuan penyelenggaraan kegiatan dan potensi gangguan ketertiban masyarakat.
Peringatan Hari Pahlawan seharusnya menjadi momentum refleksi nasional, bukan sekadar panggung kemeriahan. Menghormati para pahlawan tidak cukup dengan memasang gambar pejuang dan mengibarkan Merah Putih, tetapi juga dengan menjaga nilai-nilai perjuangan yang telah diwariskan.
Media ini membuka ruang klarifikasi bagi panitia penyelenggara maupun pihak kepolisian demi menjaga keberimbangan pemberitaan.
Penulis : Abdul Khalim




