SUARARAKYAT62.COM – Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Pada bulan inilah umat Muslim mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang menjadi Rasul terakhir sekaligus teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan. Mulai dari pembacaan shalawat, pengajian, pembacaan sejarah kehidupan Rasulullah SAW, pembacaan Barzanji, hingga kegiatan berbagi dengan sesama.
Peringatan Maulid bukan hanya menjadi kesempatan untuk mengenang kelahiran Nabi. Momentum ini juga dapat digunakan untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah SAW, memperkuat kecintaan kepada beliau, serta berusaha menerapkan akhlak dan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Terkait tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal merupakan pendapat yang sangat populer di tengah masyarakat. Namun, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai tanggal pasti kelahiran Rasulullah SAW.
Karena itu, yang terpenting dari momentum Maulid bukan sekadar memperdebatkan tanggalnya, tetapi mengambil pelajaran dari kehidupan dan perjuangan beliau.
Lantas, apa saja hikmah yang dapat diambil dari peringatan Maulid Nabi?
Berikut lima di antaranya.
1. Membiasakan Diri Memperbanyak Shalawat
Salah satu hal yang paling identik dengan peringatan Maulid Nabi adalah lantunan shalawat. Di berbagai daerah, masyarakat berkumpul untuk membaca shalawat dan memuji Nabi Muhammad SAW.
Shalawat bukan sekadar bagian dari tradisi Maulid. Al-Qur’an secara jelas memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS Al-Ahzab: 56)
Karena itu, Maulid dapat menjadi momentum untuk membiasakan diri memperbanyak shalawat. Tidak hanya ketika menghadiri acara Maulid, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Kementerian Agama juga menjadikan kegiatan shalawat sebagai salah satu bagian dari upaya menghidupkan syiar Maulid dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
2. Menumbuhkan dan Memperkuat Cinta kepada Rasulullah SAW
Mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW juga menjadi kesempatan untuk kembali menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah.
Kecintaan tersebut tentu tidak cukup hanya dengan mengucapkan bahwa kita mencintai Nabi. Rasa cinta kepada Rasulullah seharusnya mendorong seseorang untuk mengenal lebih dekat kehidupan beliau, mempelajari perjuangannya dan berusaha mengikuti ajaran yang dibawanya.
Semakin seseorang mengenal akhlak dan perjuangan Rasulullah, semakin banyak pula hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, peringatan Maulid sebaiknya tidak berhenti pada kemeriahan acara. Momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak shalawat, membaca sirah Nabi dan kembali mengingat pesan-pesan Rasulullah SAW.
3. Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan
Nabi Muhammad SAW bukan hanya sosok yang dicintai umat Islam, tetapi juga merupakan teladan dalam berbagai aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang patut dijadikan contoh.
Keteladanan itu dapat diterapkan mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya membiasakan berkata jujur, menjaga amanah, bersikap sabar, menghormati orang lain, menyayangi keluarga dan peduli terhadap sesama.
Dengan demikian, Maulid tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang Nabi, tetapi juga menjadi pengingat agar akhlak beliau benar-benar diterapkan dalam kehidupan.
4. Mengajarkan Akhlak Mulia kepada Generasi Berikutnya
Maulid Nabi juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua dan pendidik untuk mengenalkan sosok Rasulullah SAW kepada anak-anak sejak dini.
Anak-anak tidak hanya perlu mengetahui nama Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perlu mengenal bagaimana beliau bersikap kepada keluarga, sahabat dan masyarakat.
Kisah kehidupan Rasulullah dapat menjadi media untuk mengajarkan berbagai nilai positif, seperti kejujuran, kasih sayang, kesabaran, keberanian, kepedulian dan sikap menghormati orang lain.
Hal tersebut juga terlihat dalam sejumlah peringatan Maulid Nabi di lingkungan madrasah pada tahun ini. Kementerian Agama mencatat sejumlah kegiatan Maulid yang menjadikan keteladanan akhlak Rasulullah sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
Dengan mengenalkan akhlak Rasulullah sejak dini, anak-anak diharapkan tidak hanya hafal kisah Nabi, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai baik dari kehidupan beliau.
5. Mengubah Peringatan Maulid Menjadi Momentum Memperbaiki Diri
Hikmah berikutnya adalah menjadikan Maulid sebagai momentum untuk melakukan introspeksi.
Setelah membaca kisah Nabi, mendengarkan ceramah dan memperbanyak shalawat, pertanyaan yang lebih penting adalah: sudah sejauh mana kita meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari?
Sebab, kecintaan kepada Nabi seharusnya tidak berhenti pada ucapan atau perayaan. Kecintaan tersebut idealnya terlihat dalam perilaku.
Mulai dari memperbaiki ibadah, menjaga ucapan, berbuat baik kepada orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga hubungan dengan keluarga, hingga menghindari perbuatan yang merugikan sesama.
Peringatan Maulid Nabi yang digelar di sejumlah daerah tahun ini juga banyak menekankan hal serupa. Maulid diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi sarana untuk mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Maulid Nabi Bukan Sekadar Seremoni
Pada akhirnya, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang meramaikan bulan Rabiul Awal.
Lebih dari itu, Maulid dapat menjadi kesempatan untuk kembali mendekatkan diri kepada Rasulullah melalui shalawat, mempelajari sejarah kehidupannya dan mengambil pelajaran dari akhlak beliau.
Kemuliaan Rasulullah tidak cukup hanya dikenang. Keteladanan beliau perlu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, peringatan Maulid Nabi tidak berhenti ketika acara selesai, tetapi meninggalkan perubahan nyata dalam diri setiap orang yang memperingatinya.
Sumber: Al-Qur’an QS Al-Ahzab ayat 21 dan 56, Quran NU Online, Kementerian Agama RI.




