PASURUAN, SUARARAKYAT62.COM

Insiden kabel WiFi yang nyaris merenggut nyawa seorang siswa di Jalan Laksda Martadinata tak lagi sekadar kecelakaan. Kasus ini mulai mengarah pada dugaan kelalaian serius yang bersifat sistemik, Rabu (15/4).
Didampingi Hj. Nurul, istri anggota DPRD Kota Pasuruan H. Mulyadi, korban resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Pasuruan Kota.
Langkah ini menjadi titik balik setelah tidak ada satu pun pihak yang secara sukarela bertanggung jawab atas kabel berbahaya yang terpasang di ruang publik.
“Kami ingin ada kejelasan. Harus ditemukan siapa yang memasang, dan harus ada sanksi. Ini menyangkut nyawa,” tegas Hj. Nurul.
Namun persoalan ini dinilai tidak berdiri sendiri. Berdasarkan pantauan di lapangan, kabel-kabel WiFi yang terpasang semrawut bukan hanya di satu titik. Di berbagai ruas jalan Kota Pasuruan, kabel menjuntai rendah, melintang tanpa standar keamanan yang jelas, seolah menjadi pemandangan biasa yang luput dari pengawasan.
Situasi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran sistemik oleh pihak-pihak yang seharusnya memiliki kewenangan pengawasan, baik dari sisi perizinan maupun penataan infrastruktur utilitas.
Jika benar terjadi pembiaran, maka tanggung jawab tidak hanya berhenti pada provider WiFi, tetapi juga dapat merembet pada instansi teknis yang dinilai gagal menjalankan fungsi kontrol dan penertiban.
Sejumlah pihak kini mulai mendorong adanya audit menyeluruh terhadap seluruh jaringan kabel utilitas di Kota Pasuruan.
Tidak hanya untuk mengidentifikasi pelanggaran, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya praktik pemasangan tanpa izin atau di luar standar teknis.
Lebih jauh, desakan evaluasi terhadap pejabat terkait pun mulai menguat. Hal ini dinilai penting untuk memastikan adanya akuntabilitas, sekaligus mencegah terulangnya insiden serupa di kemudian hari.
Sementara itu, Polres Pasuruan Kota dituntut bergerak cepat dan transparan dalam menangani laporan ini. Publik menunggu apakah penanganan kasus ini akan berhenti pada pelaku lapangan semata, atau berani menelusuri hingga ke akar persoalan yang lebih dalam.
Kasus ini menjadi ujian serius, apakah keselamatan publik benar-benar menjadi prioritas, atau kembali dikalahkan oleh kelalaian yang dibiarkan berulang.
Penulis : Abdul Khalim




