Morotai, SuaraRakyat62.com – Dunia pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, berduka. Muhammad Hatta Hi. Saraha, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Pulau Morotai dan Ketua PGRI Morotai, wafat pada Minggu (6/7/2025) di RSUD Ir. Soekarno, setelah sebelumnya dikabarkan sakit.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Kepsek SMAN 1 Morotai Tutup Usia, Pesan Terakhirnya: Jaga Almamater Sekolah

Almarhum dikenal sebagai sosok guru yang mengabdi lebih dari 27 tahun di SMAN 1 Morotai, sejak awal sebagai guru mata pelajaran agama hingga menjabat kepala sekolah dalam kurun waktu yang cukup lama. Dedikasi, ketulusan, dan ketegasannya menjadikan beliau panutan tak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga di hati para murid dan masyarakat.

Pukul 14.26 WIT, jenazah almarhum diberangkatkan menggunakan ambulance menuju Pelabuhan Speedboat Daruba, untuk selanjutnya dibawa ke Kota Ternate menggunakan speedboat. Suasana penuh haru menyelimuti lokasi, ratusan alumni dan warga setempat memadati pelabuhan untuk memberikan penghormatan terakhir.

Salah satu alumni, Fauzi Wibowo, lulusan tahun 2005, tak kuasa menahan air mata saat mengungkapkan rasa duka.

“Kami sangat kehilangan. Pak Hatta adalah guru yang luar biasa, sosok yang sangat baik dan penuh dedikasi. Beliau bukan hanya guru, tapi juga orang tua di sekolah,” ujarnya.

Fauzi menambahkan, dari tangan dingin Muhammad Hatta, banyak alumni yang kini sukses meniti karier di berbagai bidang, mulai dari ASN, pengusaha, TNI, Polri, hingga anggota DPRD.

“Dua ketua DPRD di daerah ini pernah menjadi murid beliau. Itu membuktikan betapa besar jasanya dalam dunia pendidikan,” imbuhnya.

Tak lama sebelum wafat, Muhammad Hatta sempat menyampaikan pesan yang menyentuh hati, baik kepada media maupun kepada para orang tua siswa.

“Anak-anak kita bisa berprestasi jika kita semua kerja sama guru, orang tua, dan masyarakat. Kami di sekolah kerja dari jam 7 sampai jam 2, selebihnya jadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat. Mari sama-sama jaga anak-anak kita,” pesan almarhum.

Dalam canda khasnya kepada para orang tua, almarhum pernah menyampaikan bahwa kini guru harus menghadapi siswa dengan “senyum”, bukan dengan hukuman fisik, sesuai dengan aturan pendidikan yang baru.

“Sekarang guru senyum kalau siswa terlambat, naik pagar, bahkan berkelahi. Kalau dulu saya baru senyum jam 10, sekarang pagi-pagi sudah harus senyum,” ucapnya, disambut tawa para orang tua saat itu.

Namun di balik canda tersebut, tersirat pesan serius: pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

“Saya berharap, walaupun di luar sekolah, siswa-siswaku tetap jaga nama baik sekolah, jaga almamater,” tegasnya dalam salah satu pertemuan terakhir bersama orang tua siswa.

Kepergian Muhammad Hatta Hi. Saraha meninggalkan duka mendalam, namun juga warisan semangat yang akan terus dikenang. Ratusan murid, alumni, dan kolega pendidikan mengenang beliau sebagai pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya untuk mencetak generasi terbaik Morotai.

Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Selamat jalan, Guru. Pesanmu akan kami jaga, almamater akan kami hormati.

 

 

Pewarta ; Irjan_Nyong