Morotai, SuaraRakyat62.com – Proyek galian C di Desa Mandiri, Kecamatan Morotai Selatan, Maluku Utara, menuai sorotan tajam dari warga setempat. Aktivitas penggalian batu bolder untuk pembangunan talud penahan ombak dilakukan hanya berjarak sekitar 5 meter dari rumah penduduk, memunculkan keresahan akan potensi bencana longsor.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Keselamatan Warga Terabaikan, Proyek Galian C Diduga Langgar Etika Lingkungan

Pantauan SuaraRakyat62 pada Rabu (30/7/2025) menunjukkan alat berat terus beroperasi di kaki bukit yang berbatasan langsung dengan kawasan pemukiman. Tumpukan batu besar tampak tak stabil dan rawan bergeser, terutama jika terjadi guncangan gempa bumi.

“Kami sangat khawatir. Kalau ada gempa, bukit bisa longsor dan menimpa rumah kami,” ungkap Fitria, salah satu warga yang rumahnya persis berdampingan dengan lokasi penggalian.

Kepala Desa Mandiri, Supardi Abdula, membenarkan bahwa proyek ini telah dikomunikasikan sebelumnya oleh pihak pelaksana kepada pemerintah desa. Ia menjelaskan bahwa penggalian dilakukan untuk kebutuhan pembangunan talud serta mendukung rencana perluasan kawasan desa.

“Pihak proyek memang sudah menyampaikan ke desa. Batu yang digali digunakan untuk pembangunan talud, dan ke depannya wilayah ini juga akan dikembangkan,” terang Supardi.

Sementara itu, pelaksana proyek menyebutkan bahwa pengambilan batu sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Material yang diambil digunakan untuk membangun talud sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana pesisir, dengan kebutuhan mencapai lebih dari 2.000 meter kubik batu bolder.

“Proyek ini bagian dari program penanganan bencana. Saat ini pembangunan talud sudah mencapai progres sekitar 50 persen,” jelas Bagas, perwakilan dari pelaksana proyek.

Proyek ini dikerjakan oleh CV. Alfa Rizky, perusahaan yang beralamat di Jl. Trans, Kelurahan Jati, Kota Ternate. Sumber pendanaan berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan nilai pagu mencapai Rp9,48 miliar.

Meski bertujuan untuk penanggulangan bencana, warga tetap berharap agar aspek keselamatan lingkungan dan penduduk tetap menjadi prioritas utama. Mereka meminta agar pemerintah daerah maupun pihak kontraktor mengevaluasi lokasi penggalian dan mempertimbangkan jarak aman dari permukiman.

“Kalau tujuan proyek ini untuk lindungi warga, ya jangan sampai malah membahayakan kami yang tinggal dekat sini,” tutup Fitria dengan nada khawatir.

 

 

Pewarta ; Irjan