JAKARTA, SuaraRakyat62.com – Gelombang kritik terhadap arah kebijakan pemerintah kembali mengemuka. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bersama sejumlah elemen masyarakat menggelar aksi nasional bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (12/6).

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Mahasiswa Turun ke Jalan, Soroti Kenaikan Biaya Hidup dan Beban Rakyat

Aksi yang dimotori Front Mahasiswa Nasional (FMN) bersama sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi mahasiswa lintas kampus tersebut menjadi wadah penyampaian aspirasi terkait berbagai persoalan ekonomi dan sosial yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Massa aksi mulai bergerak sekitar pukul 13.00 WIB dari kawasan Dukuh Atas menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Sepanjang perjalanan, peserta membawa berbagai atribut perjuangan berupa bendera, spanduk, dan poster yang memuat kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.

Di bawah terik matahari, para demonstran secara bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti kondisi ekonomi nasional. Mereka menilai masyarakat saat ini menghadapi tekanan yang semakin berat akibat meningkatnya biaya hidup, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, serta berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan langsung oleh kelompok masyarakat bawah.

Menurut para peserta aksi, dampak tekanan ekonomi tidak hanya dirasakan masyarakat perkotaan, tetapi juga petani, buruh, nelayan, pelaku usaha kecil, hingga kelompok masyarakat rentan lainnya yang menghadapi tantangan semakin besar dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ketua Umum Front Mahasiswa Nasional (FMN), Symphati Dimas Rafi’i, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi yang menurut mereka perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Ia menilai berbagai kebijakan yang diambil pemerintah perlu dievaluasi agar lebih mampu menjawab kebutuhan masyarakat di tengah dinamika ekonomi nasional maupun global yang masih penuh ketidakpastian.

“Aksi ini merupakan bentuk penyampaian aspirasi atas berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat. Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kondisi rakyat dan mengingatkan pemerintah agar setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas,” ujarnya dalam orasi.

Aksi tersebut tidak hanya diikuti mahasiswa, tetapi juga melibatkan sejumlah kelompok perempuan, masyarakat miskin perkotaan, serta elemen pekerja yang turut menyampaikan berbagai aspirasi mereka.

Dalam demonstrasi itu, massa menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya pengendalian harga kebutuhan pokok, penurunan harga BBM, evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah yang dinilai membebani anggaran negara, penghentian penggusuran, hingga penolakan terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Selain isu ekonomi, peserta aksi juga menyoroti pentingnya penguatan demokrasi, transparansi tata kelola pemerintahan, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat dalam proses pembangunan.

Bundaran HI yang menjadi titik utama aksi dipenuhi peserta yang secara bergantian menyampaikan pandangan melalui orasi, yel-yel perjuangan, dan berbagai bentuk ekspresi politik lainnya. Aparat keamanan tampak melakukan pengamanan untuk memastikan jalannya aksi berlangsung tertib.

Bagi kalangan mahasiswa, demonstrasi ini tidak semata-mata menjadi ruang kritik terhadap pemerintah, tetapi juga bentuk partisipasi dalam kehidupan demokrasi. Mereka berharap berbagai persoalan yang disuarakan dapat menjadi perhatian para pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah strategis ke depan.

Aksi #MenujuIndonesiaBangkrut sekaligus menunjukkan bahwa isu ekonomi masih menjadi perhatian utama masyarakat. Di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya mereda, tuntutan akan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat, memperkuat lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat terus menjadi harapan berbagai kalangan.

Terlepas dari perbedaan pandangan yang muncul, aksi tersebut menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang memberi ruang bagi warga negara untuk menyampaikan kritik dan aspirasi secara terbuka. Dialog yang konstruktif antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Pada akhirnya, substansi dari aksi ini bukan semata-mata soal demonstrasi di jalanan, melainkan pesan yang ingin disampaikan kepada negara bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Mahasiswa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat harus mampu dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang berada di garis depan menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.

 

 

(Red)