Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Pasuruan tahun ini berlangsung dengan cara yang tidak biasa. Warga Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek, memilih Sungai Welang, tepatnya di kawasan Dam Pleret, sebagai lokasi untuk memperingati detik-detik Proklamasi, Senin (17/8/2026).

Bukan sekadar seremoni, kegiatan bertajuk “Ayo Merah Putihkan Dam Pleret” tersebut menjadi pesan terbuka bahwa semangat kemerdekaan harus terus dirawat melalui nasionalisme, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebersamaan masyarakat.
Sejak pagi, warga, para siswa, tokoh masyarakat, hingga jajaran Pemerintah Desa Pleret terlihat memadati kawasan Dam Pleret. Mereka berdiri di sepanjang bibir sungai untuk mengikuti prosesi pengibaran Bendera Merah Putih berukuran sekitar 17 meter yang membentang di atas Dam Pleret.

Upacara tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Muhamad Zaini, yang bertindak sebagai pembina upacara.
Dalam amanatnya, Zaini mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati dengan upacara dan kegiatan seremonial. Nilai perjuangan para pahlawan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata melalui kepedulian sosial, menjaga lingkungan, serta memperkuat gotong royong.
“Dam Pleret bukan hanya sebuah tempat, melainkan bagian dari sejarah dan kehidupan masyarakat. Mari kita jaga kebersihan, keindahan, keamanan, serta manfaatnya untuk generasi yang akan datang,” ujar Zaini.
Menurutnya, Dam Pleret dapat menjadi simbol persatuan masyarakat. Karena itu, semangat kemerdekaan harus diwujudkan dengan menjaga kerukunan, saling menghormati, dan membantu satu sama lain.
“Satu langkah, satu semangat, Guyub Rukun Sak Lawase,” tegasnya.

Salah satu warga Pohjentrek sekaligus aktivis Pasuruan, M. Romli, menilai peringatan kemerdekaan di Dam Pleret memiliki pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar keunikan lokasi upacara.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat, mulai dari sejarawan, aktivis pemuda, pelajar sekolah dasar, mantan kepala desa, hingga masyarakat Kabupaten Pasuruan.
Romli menilai momentum HUT ke-81 RI harus menjadi kesempatan untuk kembali menanamkan rasa nasionalisme, terutama kepada generasi muda.
“Kita hari ini harus memupuk lagi rasa nasionalisme dengan semangat gotong royong yang juga hari ini sudah mulai terkikis,” kata Romli.

Ia menilai kondisi bangsa saat ini membutuhkan penguatan kembali nilai-nilai kebersamaan. Menurutnya, semangat nasionalisme tidak boleh berhenti pada pengibaran bendera atau seremoni tahunan, tetapi harus terlihat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Gotong royong, kata Romli, merupakan salah satu kekuatan sosial yang sejak dahulu menjadi karakter masyarakat Indonesia. Namun, di tengah perubahan zaman, nilai tersebut dinilai menghadapi tantangan karena masyarakat semakin mudah terjebak pada kepentingan individual.

Karena itu, menurutnya, kegiatan seperti peringatan kemerdekaan di Dam Pleret penting untuk terus dikembangkan. Selain mengenang perjuangan para pahlawan, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak-anak.
“Semangat nasionalisme harus terus dikembangkan dengan kondisi bangsa hari ini,” ujarnya.
Pesan tentang perjuangan kemerdekaan semakin terasa ketika masyarakat setempat menampilkan drama kolosal yang menggambarkan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
Yang menarik, drama tersebut tidak berlangsung di panggung biasa. Para pemeran memainkan adegan perjuangan di atas perahu bambu yang melintas di aliran Sungai Welang.

Pertunjukan tersebut sontak menarik perhatian warga dan para pelajar yang menyaksikan dari sekitar Dam Pleret. Tepuk tangan dan sorak penonton mengiringi jalannya drama kolosal tersebut.
Konsep itu sekaligus memperkuat pesan bahwa sejarah perjuangan bangsa harus dikenalkan dengan cara yang dekat dengan masyarakat dan mudah dipahami oleh generasi muda.
Peringatan HUT ke-81 RI di Dam Pleret akhirnya tidak hanya menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa merah putih harus hidup dalam tindakan nyata: menjaga lingkungan, memperkuat persaudaraan, merawat gotong royong, dan mempertahankan nasionalisme di tengah perubahan zaman.
(Moel)




