Surabaya, SuaraRakyat62.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah. Menurutnya, keterlibatan seluruh warga melalui semangat gotong royong, kebersamaan, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila menjadi kunci untuk membangun Surabaya yang semakin sejahtera dan harmonis.

Pesan tersebut disampaikan Eri seusai memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Halaman Balai Kota Surabaya, Senin (17/8/2026) pagi.
Dalam momentum kemerdekaan tahun ini, Pemkot Surabaya menampilkan tari kolosal bertema Pancasila dan Kampung Pancasila. Pertunjukan tersebut menjadi simbol pentingnya persatuan dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan kota.
“Jadi kemerdekaan yang ke-81 ini, tadi kita menampilkan tari kolosal terkait dengan Pancasila, Kampung Pancasila. Maka saya berharap di kemerdekaan yang ke-81 ini, kesejahteraan, kebersamaan, guyub rukun, gotong royong semakin bisa dilakukan di Surabaya,” kata Eri.
Ia menekankan, pembangunan kota harus berangkat dari nilai-nilai Pancasila dan dilaksanakan secara bersama-sama. Pemerintah, kata Eri, tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan perkotaan tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa sendiri melakukan hal itu. Karena itulah tari yang kita tampilkan adalah membangun Surabaya karena filosofi dan jiwa-jiwa Pancasila yang dilakukan bersama dengan seluruh warga Kota Surabaya,” ujarnya.
Eri berharap kekuatan kebersamaan tersebut dapat menjadi modal sosial untuk mengurangi kesenjangan serta meningkatkan kesejahteraan warga. Ia bahkan menargetkan persoalan kemiskinan dapat ditekan melalui kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat.
“Jika kita bisa melakukan itu, maka tidak akan lagi ada kesenjangan di antara kita. Tidak ada lagi kemiskinan,” tegasnya.
Selain persoalan ekonomi, Eri mengajak seluruh warga ikut menjaga keamanan dan kehidupan sosial di lingkungan masing-masing. Ia menyebut sejumlah persoalan seperti kekerasan, premanisme, kemiskinan, hingga anak putus sekolah sebagai tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.
“Saya berharap seluruh warga Kota Surabaya dengan semangat Pancasila, kita jaga Kota Surabaya. Kita hilangkan yang namanya kekerasan, kita hilangkan yang namanya premanisme, kita hilangkan yang namanya kemiskinan. Kita hilangkan yang namanya putus sekolah,” tuturnya.
Menurut Eri, berbagai persoalan tersebut tidak cukup hanya ditangani melalui kebijakan pemerintah. Dibutuhkan kepedulian masyarakat, solidaritas antarwarga, serta budaya gotong royong agar program pembangunan benar-benar memberikan manfaat secara luas.
“Dengan kebersamaan, dengan gotong royong dan kekuatan Pancasila,” ungkapnya.
Dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut, Pemkot Surabaya juga menyerahkan penghargaan Satyalancana Karya Satya kepada 966 Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Penghargaan diberikan kepada PNS yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas loyalitas dan pengabdian para aparatur dalam menjalankan tugas pemerintahan sekaligus memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Eri berpesan agar penghargaan tersebut tidak hanya dipandang sebagai pengakuan atas lamanya masa kerja. Lebih dari itu, Satyalancana Karya Satya harus menjadi pengingat bagi para aparatur untuk terus menjaga integritas, profesionalitas, serta nama baik Pemerintah Kota Surabaya.
“Saya berharap Satya Lencana ini yang menerima 30 tahun, 20 tahun, 10 tahun, jaga nama baik Pemerintah Kota Surabaya,” kata Eri.
Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI pun menjadi pengingat bahwa pembangunan Surabaya membutuhkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Semangat kebersamaan, gotong royong, serta nilai-nilai Pancasila diharapkan tidak berhenti dalam seremoni peringatan kemerdekaan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan pelayanan publik.
(Ani)




