Ngawi, SuaraRakyat62.com – Pemerintah Kabupaten Ngawi bergerak cepat menghadapi ancaman kemarau ekstrem akibat badai El Nino Godzilla yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun 2026. Sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan guna menjaga produktivitas pertanian dan mencegah potensi gagal panen di wilayah lumbung pangan Jawa Timur tersebut.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, di sela kegiatan Gerakan Percepatan Tanam Padi Serempak se-Jawa Timur yang digelar di Desa Gemarang, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Kamis (23/4/2026).
Menurut Wakil Bupati yang akrab disapa Antok itu, Pemkab Ngawi telah melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang paling rentan terdampak kekeringan, terutama lahan persawahan yang masih bergantung pada air waduk dan tadah hujan.

Langkah pemetaan tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi dini agar kerugian petani akibat cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin.
“Titik puncak kemarau ekstrem ini diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026. Melalui pemetaan wilayah serta tata kelola air yang tepat, kami berupaya keras mengantisipasi potensi gagal panen akibat suhu panas yang tinggi,” tegas Antok.
Selain pemetaan wilayah, Pemkab Ngawi juga mengandalkan pemanfaatan sumur pompa air tenaga listrik atau Electric for Farm (Elfarm) sebagai solusi alternatif pengairan sawah saat musim kemarau tiba.
Program tersebut diharapkan mampu membantu petani mendapatkan pasokan air secara lebih stabil sehingga proses tanam dan pertumbuhan padi tetap berjalan optimal.
Dalam kegiatan percepatan tanam padi tersebut, Wakil Bupati bersama tamu undangan serta sejumlah kelompok tani turut turun langsung ke sawah menanam bibit padi.
Pada kesempatan itu, pemerintah juga membagikan bibit padi unggulan kepada petani sebagai dukungan menghadapi tantangan musim kemarau dan peningkatan produktivitas pertanian.
Selain menghadapi ancaman cuaca ekstrem, sektor pertanian Kabupaten Ngawi juga dibebani target besar dari pemerintah pusat.
Wabup Antok menjelaskan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menargetkan luas panen di Kabupaten Ngawi pada tahun 2026 mencapai 169 ribu hektare. Target tersebut dinilai cukup menantang mengingat luas baku sawah (LBS) di Kabupaten Ngawi saat ini hanya sekitar 49 ribu hektare.
“Untuk mencapai target luasan panen itu, secara ideal kita membutuhkan sekitar 60 ribu hektare LBS. Sementara realita di Ngawi, luas baku sawah kita hanya 49 ribu hektare,” jelasnya.
Untuk menyiasati keterbatasan lahan, Pemkab Ngawi akan mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP), yakni frekuensi tanam dan panen dalam satu tahun.
Saat ini, IP padi di Kabupaten Ngawi telah mencapai 2,8, yang berarti lahan sawah dapat dipanen hampir tiga kali dalam setahun.
Menurut Antok, angka tersebut masih perlu ditingkatkan agar target nasional bisa tercapai, disertai peningkatan hasil panen per hektare.
“Untuk mengejar target Kementan, IP harus terus ditingkatkan. Selain itu, hasil panen per hektare juga harus naik,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya penerapan pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan agar kesuburan tanah tetap terjaga serta produksi pangan tetap stabil dalam jangka panjang.
Langkah cepat Pemkab Ngawi ini menunjukkan komitmen daerah dalam menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim global. Dengan strategi pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan irigasi modern, percepatan tanam, dan peningkatan produktivitas, Kabupaten Ngawi diharapkan tetap mampu menjadi salah satu daerah penyangga pangan utama di Jawa Timur maupun nasional.
(Pr)




