Kota Pasuruan, SuaraRakyat62.com – Dinamika organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan di Kota Pasuruan kembali menjadi sorotan. Sejumlah kalangan menilai terjadi krisis regenerasi kepemimpinan yang ditandai dengan munculnya figur-figur yang sama dalam berbagai organisasi, mulai dari organisasi kepemudaan, olahraga, keagamaan, hingga organisasi pengusaha.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai sehat atau tidaknya proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di Kota Pasuruan. Pasalnya, banyak posisi strategis dalam berbagai organisasi diketahui diisi oleh orang-orang yang sama atau memiliki keterkaitan erat dalam lingkaran tertentu.
Kondisi ini dinilai berpotensi mempersempit ruang partisipasi generasi muda yang memiliki kapasitas dan keinginan untuk terlibat dalam proses pembangunan sosial maupun kepemimpinan organisasi.
Aktivis sekaligus pemerhati kebijakan publik Pasuruan, Bung Achmad, menilai bahwa organisasi seharusnya menjadi ruang pembelajaran, kaderisasi, dan pencetakan pemimpin masa depan. Namun apabila ruang tersebut hanya berputar pada figur yang sama, maka regenerasi akan mengalami stagnasi.
“Organisasi lahir untuk melahirkan pemimpin baru, bukan untuk mempertahankan kekuasaan kelompok tertentu. Ketika banyak organisasi dipimpin oleh orang yang sama atau lingkaran yang sama, maka ruang tumbuh bagi kader muda menjadi semakin sempit. Ini bukan hanya persoalan organisasi, tetapi persoalan masa depan kepemimpinan daerah,” ujar Bung Achmad saat di konfirmasi awakmdedia, Minggu (14/06/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena regenerasi merupakan syarat utama keberlanjutan organisasi. Tanpa regenerasi yang sehat, organisasi akan kehilangan daya kritis, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Ia juga menyoroti dugaan adanya kepentingan politik yang masuk terlalu jauh dalam proses pembentukan maupun pengelolaan organisasi tertentu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap dugaan harus dibuktikan secara objektif dan tidak boleh hanya menjadi asumsi tanpa dasar yang jelas.
“Yang harus dijaga adalah independensi organisasi. Organisasi pemuda, olahraga, keagamaan maupun profesi harus menjadi ruang pengabdian dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar arena distribusi kekuasaan atau kepentingan kelompok tertentu. Jika kaderisasi berjalan sehat, maka banyak tokoh muda potensial yang bisa tampil dan berkontribusi untuk Kota Pasuruan,” tegasnya.
Senada dengan itu, Wakil Ketua Gerakan Rakyat Hebat (GERAH) Kota Pasuruan, H. M. Iswanto, menilai bahwa keterlibatan generasi muda dalam berbagai organisasi harus terus diperluas agar muncul pemimpin-pemimpin baru yang mampu membawa perubahan positif bagi daerah.
Menurutnya, organisasi tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu, melainkan harus terbuka bagi seluruh elemen masyarakat yang memiliki kemampuan dan komitmen untuk berkontribusi.
“Kita membutuhkan regenerasi yang sehat. Jangan sampai organisasi hanya menjadi tempat berpindahnya jabatan dari satu kelompok ke kelompok yang sama. Pemuda harus diberi ruang untuk belajar memimpin, mengambil keputusan, dan membangun gagasan-gagasan baru untuk kemajuan Kota Pasuruan,” kata Iswanto.
Ia menambahkan bahwa organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu melahirkan kader-kader baru secara berkelanjutan, bukan organisasi yang bergantung pada figur tertentu dalam jangka waktu panjang.
Fenomena dominasi figur yang sama dalam berbagai organisasi ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab, keberadaan organisasi kepemudaan, olahraga, keagamaan maupun profesi memiliki peran strategis dalam membangun karakter generasi muda serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.
Munculnya berbagai kritik dan masukan dari masyarakat menunjukkan tingginya harapan agar organisasi-organisasi di Kota Pasuruan dapat menjalankan fungsi kaderisasi secara lebih terbuka, demokratis, dan inklusif.
Pada akhirnya, regenerasi bukan sekadar pergantian nama dalam struktur kepengurusan, melainkan proses membangun ruang yang adil bagi lahirnya pemimpin-pemimpin baru. Kota Pasuruan membutuhkan lebih banyak tokoh muda yang diberi kesempatan untuk tumbuh, berproses, dan mengambil peran dalam berbagai sektor kehidupan. Sebab masa depan daerah tidak dapat dibangun hanya oleh segelintir orang, melainkan melalui partisipasi luas dari seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda yang akan menjadi penerus estafet kepemimpinan di masa mendatang.
(Tim)




